Monday, 05 October 2026
Cuaca Jakarta Memuat cuaca...
Opini October 4, 2026 Redaktur 5 menit baca

Kebakaran Hutan: Apa yang Ada di Pikiran Anak dan Remaja?

Oleh: Lely Safrina

Melihat bagaimana kebakaran hutan memengaruhi kesehatan mental anak dan remaja.

Pagi itu mungkin dimulai seperti pagi biasa. Seorang anak bangun, bersiap ke sekolah, lalu melihat keluar jendela. Langit tidak lagi biru. Udara berbau terbakar. Orang tuanya berkali-kali melihat telepon, mencari kabar tentang titik api dan arah angin.

Ia tidak mengerti apa itu PM2.5. Ia tidak tahu mengapa lahan gambut begitu sulit dipadamkan. Ia juga tidak memahami siapa yang bertanggung jawab menangani kebakaran.

Yang ia tahu hanya satu: ada sesuatu yang tidak beres.

Ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi, perhatian kita mudah tertuju pada apa yang terlihat: api yang menjalar, asap tebal, rumah yang terancam, berapa hektare lahan yang terbakar, dan berapa titik api yang ditemukan.

Kita juga berbicara tentang batuk, sesak napas, dan bahaya asap bagi paru-paru. Semua itu penting. Anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap polusi udara karena tubuh mereka masih berkembang.

Tetapi kebakaran tidak hanya masuk ke paru-paru. Pengalaman itu juga dapat tinggal di dalam pikiran.

Bagi anak yang tinggal di wilayah terdampak, asap mungkin berarti tidak boleh bermain di luar. Sekolah bisa terganggu. Orang tua mungkin tidak dapat bekerja seperti biasanya. Bagi keluarga yang berada lebih dekat dengan api, artinya bisa jauh lebih besar: mengungsi, kehilangan kebun atau sumber penghasilan, bahkan tidak tahu apa yang masih tersisa ketika mereka kembali.

Di tengah semua itu, sesuatu yang sangat mendasar mulai berubah: rasa aman.

Anak banyak belajar tentang bahaya dengan melihat orang dewasa di sekitarnya. Ketika ayah dan ibu mulai sering membicarakan kebakaran, wajah mereka terlihat khawatir, atau percakapan di rumah dipenuhi pertanyaan tentang kapan asap akan hilang, anak ikut membaca keadaan.

Hanya saja, anak tidak selalu mempunyai kata-kata untuk menjelaskannya.

Mereka mungkin tidak berkata, “Aku cemas.”

Mereka lebih mungkin bertanya, “Nanti apinya datang ke sini juga?” atau “Rumah kita bisa kebakar nggak?”

Pada anak lain, tidak ada pertanyaan sama sekali. Yang berubah justru perilakunya. Anak yang biasanya berani tidur sendiri tiba-tiba ingin ditemani. Ada yang sulit tidur atau bermimpi buruk. Ada yang lebih mudah menangis, marah karena hal-hal kecil, menjadi pendiam, atau sulit berkonsentrasi di sekolah.

Remaja dapat menunjukkannya dengan cara berbeda. “Capek mikirin ini terus,” atau “Takut kejadian lagi.” Sebagian mungkin tidak mengatakan apa-apa, tetapi mulai menarik diri dari teman, kehilangan semangat belajar, atau menjadi lebih mudah tersinggung.

Dalam bahasa kesehatan mental, pengalaman tersebut dapat muncul sebagai stres, kecemasan, atau respons terhadap pengalaman traumatis. Penelitian terhadap anak dan remaja yang mengalami kebakaran besar juga menemukan gejala stres pascatrauma atau PTSD, kecemasan, dan depresi setelah bencana.

Namun, tidak setiap anak yang merasa takut setelah kebakaran berarti mengalami gangguan mental. Merasa takut, sulit tidur, atau ingin terus berada dekat dengan orang tua dapat menjadi respons terhadap pengalaman yang sangat menakutkan. Setiap anak juga mengalaminya secara berbeda. Melihat api secara langsung tentu berbeda dengan melihat asap dari kejauhan, harus mengungsi, atau kehilangan rumah dan orang yang dicintai.

Ketika Kebakaran Masuk Melalui Layar

Ada pula anak dan remaja yang mungkin berada jauh dari api, tetapi mengikuti kebakaran hampir setiap hari melalui media dan media sosial.

Hari ini, bencana dapat masuk ke kamar seorang remaja melalui layar telepon.

Dalam beberapa menit ia dapat melihat video api yang membesar, langit merah tertutup asap, satwa yang kehilangan habitat, hingga warga yang berusaha menyelamatkan diri.

Tetapi yang mereka lihat bukan hanya kebakarannya.

Di antara video dan berita itu muncul pula keluhan warga, kritik terhadap penanganan, perdebatan mengenai siapa yang bertanggung jawab, serta komentar yang mempertanyakan mengapa kebakaran belum juga terkendali.

Semua informasi itu datang hampir bersamaan.

Satu video memperlihatkan api yang masih menyala. Video berikutnya menunjukkan asap yang masih tebal. Lalu muncul unggahan warga yang merasa bantuan belum cukup atau penanganan terlalu lambat.

Remaja akhirnya bukan hanya menyaksikan bencana. Mereka juga menyaksikan perdebatan tentang apakah keadaan sudah benar-benar berada dalam kendali.

Di sinilah jarak fisik tidak selalu berarti jarak psikologis.

Seorang remaja mungkin tidak menghirup asap dan rumahnya tidak terancam api. Namun, dari layar di tangannya, ia terus menerima gambaran tentang bahaya, ketidakpastian, dan persepsi bahwa penanganan berjalan lambat.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih personal:

“Kalau ini terjadi di tempat saya, apakah kami juga akan menunggu selama itu?”

Pertanyaan tersebut menyentuh sesuatu yang lebih dalam daripada kebakaran itu sendiri: kepercayaan bahwa ketika keadaan menjadi berbahaya, ada orang dewasa dan sistem yang mampu melindungi mereka.

Ketika Api Sudah Tidak Terlihat

Ketika kebakaran akhirnya mereda, pengalaman psikologis belum tentu ikut selesai.

Bau asap di kemudian hari dapat mengingatkan seorang anak pada kejadian tersebut. Sebuah video tentang kebakaran baru di tempat lain dapat membawa kembali kekhawatiran seorang remaja.

Kita sering berbicara tentang “kerugian akibat bencana” seolah semuanya dapat dihitung.

Padahal, bagi anak, kehilangan mempunyai bentuk yang berbeda.

Kehilangan bisa berarti tempat bermain yang tidak ada lagi. Teman yang pindah karena keluarganya mengungsi. Hewan peliharaan yang hilang. Sekolah yang terganggu. Atau rumah yang sebelumnya merupakan tempat paling aman, tetapi sekarang mengingatkan pada pengalaman menakutkan.

Pada remaja, pengalaman tersebut bahkan dapat bergerak lebih jauh: menuju masa depan.

Mereka sudah cukup dewasa untuk mendengar tentang perubahan iklim, kekeringan, kerusakan hutan, dan kemungkinan kebakaran berulang.

Pertanyaannya berubah.

Bukan lagi sekadar, “Kapan asapnya hilang?”

Tetapi, “Apakah tahun depan akan begini lagi?”

Atau bahkan, “Kalau terus begini, nanti bagaimana?”

Istilah eco-anxiety semakin sering digunakan untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap krisis lingkungan dan masa depan bumi. Kekhawatiran tersebut bukan dengan sendirinya sebuah penyakit. Merasa takut terhadap ancaman yang nyata adalah respons manusiawi.

Namun, ada sesuatu yang khas pada generasi muda. Mereka bukan hanya menyaksikan apa yang terbakar hari ini. Mereka juga membayangkan harus hidup dengan konsekuensinya selama puluhan tahun mendatang.

Ketika kebakaran berakhir, laporan akan berisi angka: berapa hektare terbakar, berapa rumah rusak, berapa orang mengungsi, dan berapa titik api berhasil dipadamkan.

Tetapi tidak semua dampak masuk ke dalam tabel.

Tidak ada kolom khusus untuk anak yang sekarang takut setiap kali mencium bau asap. Tidak ada angka untuk anak yang kembali meminta ditemani tidur. Dan tidak ada peta titik panas yang menunjukkan seorang remaja yang mulai mempertanyakan apakah tempat tinggalnya akan tetap aman di masa depan.

Setelah semua angka dihitung dan asap menghilang, mungkin masih ada pertanyaan-pertanyaan yang tertinggal di pikiran anak dan remaja:

“Apakah tahun depan akan begini lagi?”

“Kalau ini terjadi di tempat saya, apakah kami juga akan menunggu selama itu?”

Dan mungkin pertanyaan yang paling sulit:

Jika kebakaran seperti ini terus terjadi, siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas rasa aman anak dan remaja—dan dampaknya terhadap kesehatan mental mereka?

Penulis adalah Dosen Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Phd candidate Univ of Groningen, Belanda

Penulis

Redaktur

Kontributor Media Civitas.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komentar akan tampil setelah disetujui moderator.