Oleh : HENNI NAHERA SIREGAR, S.Pd., M.Pd
KEGIATAN kunjungan rumah atau home visit merupakan salah satu layanan pendukung dari kegiatan bimbingan dan konseling yang dilakukan oleh kepala sekolah, wali kelas dan guru BK dengan mengunjungi orang tua/tempat tinggal siswa.
Kunjungan rumah adalah salah satu cara untuk menjalin komunikasi antara orang tua, siswa dan guru karena melakukan komunikasi langsung dengan orang tua siswa perlu dibangun dengan baik dan harmonis.
Menurut Prayitno (2015:2) home visit merupakan upaya yang dilakukan untuk mendeteksi kondisi keluarga dalam kaitannya dengan permasalahan individu yang menjadi tanggung jawab konselor (guru BK) dalam pelayanan konseling.
Home visit merupakan kegiatan pendukung dalam pelaksanaan layanan bimbingan konseling.
Dengan kegiatan ini diharapkan akan diperoleh berbagai informasi atau data yang dapat digunakan untuk lebih mengefektifkan layanan konseling dan dapat mendorong kerjasama dari orang tua (dan anggota keluarga lainnya) untuk memenuhi kebutuhan anak atau individu yang bermasalah.
Home visit tidak harus dilaksanakan dengan mengunjungi rumah siswa, melainkan dapat dengan mengundang orang tua siswa atau anggota keluarga ke sekolah.
Home visit dapat diganti dengan “undangan terhadap anggota keluarga” (Prayitno, 2017: 296).
Ada tiga tujuan utama kegiatan home visit yaitu, memperoleh data tambahan tentang permasalahan siswa yang menyangkut keadaan rumah atau orang tua, menyampaikan kepada orang tua tentang permasalahan yang sedang dialami siswa dan membangun komitmen orangtua terhadap penanganan masalah anaknya (Prayitno dan Erman Amti (2004: 324)).
Perolehan hasil home visit kemudian di evaluasi, di analisis dan ditindak lanjuti untuk menentukan cara terbaik demi kepentingan pengentasan permasalahan siswa.
Menjalin komunikasi antara orangtua siswa dengan guru merupakan salah satu realisasi dari akuntabilitas sekolah.
Untuk mendapatkan data dan keterangan siswa serta memahami permasalahannya secara tepat serta mengetahui perilaku dan hal yang dilakukan anak selama di sekolah maupun di rumah, maka diperlukan hubungan dan komunikasi yang baik antara guru dan orangtua.
Disadari atau tidak masih banyak keluarga atau lingkungan rumah yang bermasalah sehingga menimbulkan permasalahan bagi siswa terutama dalam proses belajar di sekolah.
Sumber permasalahan yang dialami siswa dapat dilihat dari mana masalah itu datang, bisa dari hubungan sosial siswa, lingkungan belajar di sekolah atau bahkan hubungan dalam keluarga.
Beberapa hal yang menjadikan pertimbangan diperlukannya home visit, yaitu jika: pertama, permasalahan yang dihadapi siswa ada kaitannya dengan masalah keluarga.
Kedua, keluarga sebagai salah satu sumber data yang dapat dipercaya tentang keadaan siswa.
Ketiga, dalam kegiatan bimbingan diperlukan kerja sama dengan orang tua.
Keempat, faktor situasi keluarga memegang peranan penting. Kelima, siswa hanya mau diajak bicara jika di rumah.
Adakalanya masalah yang sering dialami oleh siswa sehingga perlu diadakannya home visit antara lain: (1). Siswa yang malas mengikuti pelajaran dan memilih untuk bolos jam pelajaran.
(2). Siswa yang tidak masuk sekolah tanpa keterangan, (3). Siswa yang dari rumah berangkat namun tidak sampai di sekolah, (4). Siswa yang kurang disiplin seperti, sering terlambat, berpakaian tidak sesuai ketentuan, tidak membuat tugas sekolah,
(5). Keadaan keluarga yang kurang/tidak harmonis, tidak ada atau kurangnya komunikasi anak dengan orang tua sehingga mengganggu kehidupan efektif sehari-hari siswa.
(6). Adanya orang tua yang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga tidak memperhatikan prestasi anaknya yang rendah. (7). Lingkungan pergaulan siswa diluar sekolah yang kurang mendukung.
Agar komunikasi melalui home visit dapat memperoleh hasil yang diinginkan, guru perlu mengetahui kondisi masing-masing orang tua yang pasti berbeda.
Tiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda, maka berkomunikasi dengan masing-masing orang tua siswa akan berbeda satu dengan lainnya.
Mengenal kondisi orang tua begitu juga dengan anaknya terlebih dahulu akan memudahkan guru dalam membangun komunikasi.
Dengan begitu akan tercipta kedekatan melalui inti pembicaraan dengan tema masing-masing orang tua siswa berikut anaknya.
Menciptakan kenyamanan dalam berkomunikasi memerlukan empati. Kesediaan orang tua untuk diajak komunikasi akan menjadi lebih nyaman.
Kenyamanan dalam komunikasi dapat diupayakan melalui, guru harus memiliki informasi tentang kondisi/keadaan orangtua, memegang asas kerahasiaan apa yang disampaikan orangtua maupun siswa sebagai bentuk penghormatan privasi.
Guru juga perlu berhati-hati dalam membicarakan dan menyampaikan permasalahan informasi akademik kepada orangtua.
Dengan upaya diatas diharapkan orang tua akan merasa nyaman berdiskusi atau berbicara apa pun tanpa takut diketahui orang tua lain maupun siswa lain.
Idealnya komunikasi yang efektif dapat mengoptimalkan interaksi antara berbagai komponen pendidikan sehingga tercipta kebersamaan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai hasil yang maksimal.
Home visit akan menjadi lebih berarti jika bisa berkerja sama dengan guru mapel dan wali kelas serta dukungan dari sekolah.
SMA Negeri 2 Idi Kabupaten Aceh Timur, kepala sekolah bersama wali kelas dan guru Bimbingan Konseling (BK) telah melalukan home visit ke rumah orang tua siswa.
Dari kunjungan itu, banyak sekali-hali yang ditemukan terutama faktor ekonomi orang tua, kondisi rumah yang sangat memprihatinkan, sampai persoalan tidak adanya alat transportasi siswa ke sekolah.
Sehingga dari home visit itu, diketahui mengapa siswa tersebut terlambat datang ke sekolah, semangat belajarnya menurun, bahkan sering tidak mengikuti kegiatan belalar mengajar di sekolah.
Justru itu, kepala sekolah bersama wali kelas dan guru BK dan semua dewan guru dalam rapat akan membahasnya dan mencari solusi atau jalan terbaik mengatasi permasalahan tersebut.
Kita bisa merekomendasikan persoalan yang dihadapi oleh siswa misalnya, faktor ekonomi orang tua bisa disampaikan kepada Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Timur untuk diteruskan ke Dinas Pendidikan Aceh dan disampaikan kepada Pemerintah Aceh.
Demikian juga untuk di daerah, walau pun jenjang pendidikan menengah ditanagani oleh provinsi, tapi persoalan ekonomi orang tua adalah bagian tanggungjawab dari Pemerintah Kabupaten Aceh Timur.
Untuk menyelesaikan permasalahan ini, pihak sekolah harus bekerja sama dengan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah, Pemerintah Kabupaten serta semua stakeholders pendidikan agar terwujudnya kesejahteraan masyarakat, sehingga pendidikan anak semakin baik.(*)
Penulis adalah Kepala SMA Negeri 2 Idi, Aceh Timur








Leave a Reply