Oleh: Sherly Maidelina, S.Pd., CPM
«الرَّحْمَٰنُ عَلَّمَ الْقُرْآنَ خَلَقَ الْإِنسَانَ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ
Ar-Rahman. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia, mengajarinya pandai berbicara.
(QS. Ar-Rahman: 1–4)
Surah Ar-Rahman terdiri dari 78 ayat. Ia dibuka dengan nama Allah: Ar-Rahman—Yang Maha Pengasih.
Lalu Allah memperlihatkan kepada manusia sebuah keteraturan yang luar biasa: matahari dan bulan berjalan dengan perhitungan, tumbuhan dan pepohonan tunduk, langit ditegakkan, dan mizan—keseimbangan—diletakkan.
“Agar kamu jangan melampaui batas dalam keseimbangan itu. Tegakkanlah timbangan dengan adil dan jangan mengurangi keseimbangan.”
(QS. Ar-Rahman: 7–9)
Kemudian sebuah pertanyaan terus diulang:
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Sebanyak 31 kali.
Seolah manusia diminta berhenti sejenak. Melihat. Merasakan. Menyadari bahwa udara, air, tanah, hutan, tumbuhan dan seluruh makhluk hidup bukan hadir tanpa aturan. Semuanya bergerak dalam sebuah sistem yang saling terhubung.
Namun hari ini, perlahan tetapi pasti, karhutla membuat kita kembali melihat makna mizan itu.
Hutan yang terbakar bukan hanya tentang pohon yang menjadi arang.
Di dalamnya ada burung yang kehilangan sarang, satwa yang kehilangan habitat, tumbuhan yang musnah, tanah yang rusak, dan ekosistem yang kehilangan salah satu bagian penting dari keseimbangannya.
Hutan bukan sekadar kumpulan pohon.
Ia adalah rumah.
Ia adalah sumber kehidupan.
Ia adalah bagian dari sistem yang juga menjaga kehidupan manusia.
Dan ketika manusia membakar demi keuntungan, demi membuka lahan, demi pundi-pundi rupiah, yang dipertaruhkan sesungguhnya jauh lebih besar daripada nilai ekonomi yang hendak diperoleh.
Kerakusan manusia dapat mengubah nikmat menjadi bencana.
Tentu tidak setiap kebakaran semata-mata disebabkan oleh kesengajaan. Kondisi kemarau dan El Niño yang kuat memang meningkatkan risiko karhutla. BMKG pada September 2026 masih mencatat konsentrasi hotspot tinggi di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan, disertai kondisi atmosfer yang relatif kering.
Tetapi jika ada manusia yang sengaja menyalakan api demi keuntungan, maka hukum harus bekerja.
Sebab yang dibakar bukan hanya lahan.
Yang dibakar adalah keseimbangan kehidupan.
Pemerintah telah melakukan berbagai langkah penanganan, termasuk operasi pembasahan gambut dan modifikasi cuaca di sejumlah wilayah yang terdampak karhutla.
Langkah-langkah itu penting.
Tetapi karhutla juga mengajarkan bahwa negara tidak hanya diuji ketika api sudah membesar.
Negara diuji ketika api masih berupa percikan.
Kepemimpinan bukan sekadar kemampuan memadamkan kebakaran, tetapi kemampuan mencegah agar sesuatu yang berharga tidak sampai terbakar.
Jika ada pihak yang sengaja membakar demi keuntungan, maka pelakunya harus bertanggung jawab.
Namun ketika api meluas, asap menyebar, satwa mati, masyarakat jatuh sakit, rumah dan sumber penghidupan terancam, maka persoalannya tidak lagi sekadar soal pelaku pembakaran.
Ia menyentuh amanah kepemimpinan: seberapa kuat negara melindungi manusia dan alam yang dipercayakan kepadanya.
Sebab jejak api tidak berhenti di batas hutan.
Asap masuk ke permukiman.
Masuk ke sekolah.
Masuk ke paru-paru manusia.
Masyarakat yang hidup di sekitar kawasan terbakar dapat kehilangan bukan hanya udara bersih, tetapi juga kesehatan, harta benda dan sumber penghidupan.
Dan ketika asap bergerak mengikuti angin, ia bahkan tidak berhenti di batas negara.
Indonesia boleh memiliki garis perbatasan.
Malaysia memiliki garis perbatasannya sendiri.
Tetapi angin tidak memiliki paspor. Asap tidak mengenal imigrasi.
Apa yang terbakar di satu tempat dapat menjadi udara yang dihirup manusia di tempat lain.
Karena itu, karhutla bukan hanya persoalan Indonesia.
Ini adalah persoalan bumi yang kita tinggali bersama.
Bumi tidak pernah diciptakan dengan batas-batas politik yang kita gambar di peta.
Kita boleh berbeda negara, bahasa dan pemerintahan.
Tetapi kita menghirup udara yang sama.
Di sinilah Surah Ar-Rahman terasa semakin dalam.
Allah telah menciptakan mizan—keseimbangan.
Manusia kemudian diberi akal, pengetahuan dan pilihan: menjaga keseimbangan itu atau melampauinya.
Ketika manusia mengambil tanpa batas, membakar tanpa memikirkan akibat, dan mengejar keuntungan tanpa menghitung kehidupan yang dikorbankan, kita sedang menjauh dari amanah untuk menjaga keseimbangan tersebut.
Bukan berarti setiap bencana boleh langsung disebut sebagai hukuman Tuhan.
Tetapi bukankah Al-Qur’an telah mengingatkan manusia agar tidak melampaui batas?
Dan bukankah kerusakan yang kita ciptakan sendiri pada akhirnya kembali kepada kehidupan kita?
Kita membakar hutan, asap memenuhi udara.
Kita menghancurkan habitat, satwa kehilangan rumah.
Kita merusak tanah, kehidupan di atasnya ikut terganggu.
Kita mengabaikan keseimbangan, maka sistem kehidupan pun perlahan kehilangan penyangganya.
Maka pertanyaan Ar-Rahman kembali bergema:
“Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Udara yang kita kotori?
Hutan yang kita bakar?
Hewan yang kita hilangkan rumahnya?
Atau bumi yang kita wariskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan lebih rusak daripada ketika kita menerimanya?
Bagi manusia yang beriman, alam bukan sekadar sumber daya.
Ia adalah ciptaan Allah.
Hutan adalah ciptaan-Nya.
Hewan adalah ciptaan-Nya.
Air, tanah dan udara adalah nikmat-Nya.
Maka menjaga alam bukan hanya persoalan ekologis.
Ia juga persoalan rasa syukur.
Kerusakan alam dapat menjadi cermin dari bagaimana manusia memperlakukan nikmat yang telah dititipkan kepadanya.
Karena itu, ketika kita gagal menjaga alam, yang perlu ditanyakan bukan hanya:
“Berapa hektare yang terbakar?”
Tetapi juga:
“Berapa banyak amanah yang telah kita abaikan?”
Api pada akhirnya akan padam.
Asap akan menghilang.
Hujan mungkin datang dan menghijaukan kembali sebagian tanah.
Tetapi tidak semua yang terbakar dapat kembali seperti semula.
Pohon dapat ditanam kembali, tetapi hutan membutuhkan waktu.
Satwa dapat diselamatkan, tetapi habitat yang hilang tidak selalu mudah dipulihkan.
Rumah dapat dibangun kembali, tetapi kehilangan manusia tidak selalu dapat diganti.
Karena itu, jejak api jauh lebih panjang daripada nyalanya.
Ia tinggal di tanah.
Di udara.
Di tubuh manusia.
Di habitat satwa.
Dan dalam ingatan mereka yang kehilangan.
Mungkin inilah saatnya kita membaca kembali Ar-Rahman bukan hanya dengan mata, tetapi dengan kesadaran.
Allah telah menciptakan kehidupan dengan keseimbangannya.
Manusia diberi akal untuk memeliharanya.
Maka pertanyaannya bukan apakah kita menikmati nikmat Tuhan.
Kita menikmatinya setiap hari.
Pertanyaannya:
Apakah kita cukup bersyukur untuk menjaganya?
Sebab bumi bukan milik satu negara.
Bukan milik satu generasi.
Ia adalah amanah.
Dan ketika api akhirnya padam, yang tersisa bukan hanya abu.
Tetapi sebuah pertanyaan tentang jejak apa yang kita tinggalkan:
jejak kerakusan, atau jejak manusia yang pernah dipercaya menjaga keseimbangan ciptaan-Nya?
Api akan padam.
Asap akan pergi.
Tetapi jejaknya akan tinggal.
Di tanah.
Di udara.
Di kehidupan.
Dan dalam sejarah tentang bagaimana manusia menjalankan amanah yang diberikan kepadanya.
Penulis adalah Komisioner Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Aceh (KKR Aceh) | Jurnalis | Aktivis Perempuan dan HAM | Ketua Umum KOHATI HMI Cabang Langsa, 2007

