Wednesday, 21 October 2026
Cuaca Jakarta Memuat cuaca...
Opini October 20, 2026 Redaktur 5 menit baca

Ketika Langit Aceh Mulai Berasap: lesson learned Dari Jerebu Malaysia 2015

Oleh: Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc

Penulis masih ingat betul bagaimana rasanya menghirup jerebu di Malaysia tahun 2015. Saat itu penulis sedang menyelesaikan studi S3 di Universiti Kebangsaan Malaysia. Pagi-pagi disana itu langitnya tidak lagi biru. Ia kelam, kekuningan, seperti ada selimut tebal yang menggantung rendah. Matahari hanya tampak sebagai lingkaran merah yang sayu. Di setiap tarikan napas, ada rasa perih yang masuk ke tenggorokan, bau gambut terbakar yang lengket di hidung, dan mata yang terasa pedas meski tidak menangis.

Waktu itu penulis belajar satu hal, jerebu bukanlah kabut biasa. Ia adalah asap kiriman yang menyeberangi selat, lahir dari api yang dinyalakan oleh tangan manusia. Catatan resmi Jabatan Alam Sekitar Malaysia (DOE) menyebut dengan jelas, episod jerebu tahun 2015 itu berpunca daripada pencemaran rentas sempadan akibat pembakaran hutan di Sumatera, Indonesia. Itulah asap yang kami hirup dari jauh.

Warga Negara Malaysiapun meradang, sementara Warga Negara Indonesia yang sedang berdomisili disana menanggung aib ulah bangsanya di kampung halaman. Muncul ketegangan tidak kasat akibat ulah asap yang sudah meliburkan 4000 sekolah kala itu. Warga mengurangi aktivitas luar rumah, dan jelas-jelas situasi tersebut ikut mengganggu roda ekonomi negara mereka.

Bersama aktivis Badan Perwakilan Komite Nasional Pemuda Indonesia (BP KNPI) Malaysia saat itu kami tergerak untuk melakukan langkah kecil yang diharap mampu memberi pesan besar bagi warga di kedua negara terutama pemerintahnya. Melalui kerjasama dengan Pengurus Majelis Belia Malaysia (MBM), organisasi kepemudaan setara KNPI di Indonesia itu, kami gabungan pemuda Indonesia – Malaysia menggelar aksi bagi-bagi masker bersama di pusat bandaraya Kuala Lumpur tepat di depan menara kembar (Twin Towers) Petronas. Masker yang dibagikan berasal dari sumbangan warga yang prihatin dan peduli atas bencana yang sedang terjadi.

Kegiatan bersifat simbolik keprihatinan bersama tersebut turut diliput oleh stasiun televisi kedua negara. Indonesia saat itu disiarkan oleh TV One. Mengapa kita menyebutnya sebagai kegiatan simbolik, karena masker yang kita bagikan memang tidak mampu menyelesaikan masalah, namun setidaknya masyarakat di kedua negara memahami bahwa masalah jerebu atau asap karhutla ini memerlukan penangangan bersama, bukan sekedar mencari kambing hitam. Yang paling penting adalah bagaimana punca masalah dapat diselesaikan dengan hati dan pikiran dingin dalam kebersamaan dan kekeluargaan.

Paska kegiatan tersebut BP KNPI Malaysia dan MBM juga menggelar dialog bersama bertajuk “Dialog Belia Serumpun”, 17 September 2015 yang merekomendasikan solusi penanganan komprehensif agar kasus seperti ini tidak kembali terulang. Namun apa daya, hal serupa tetap berulang dan terus terulang, persis keledai yang selalu jatuh dilubang yang sama.


Hari ini, sebelas tahun kemudian, asap itu kini turut mengepung rumah kita sendiri. Sejak 13 Oktober 2026, Aceh mulai diselimuti kabut asap. Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tertanggal 16 Oktober 2026 menyebutkan, kabut asap telah menyelimuti wilayah Aceh sejak 13 Oktober 2026 dan berdampak langsung pada kualitas udara. Asap tersebut berasal dari karhutla di Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Pergerakan angin dari arah timur-tenggara ke barat laut membawa gumpalan asap lintas wilayah (transboundary haze) hingga ke Aceh.

Asap itu kini sudah masuk ke dalam rumah-rumah kita di Aceh Singkil, Aceh Jaya, dan Aceh Selatan. Dinas Kesehatan di tiga kabupaten itu kompak mengeluarkan imbauan yang sama, pakai masker, kurangi aktivitas di luar, jaga anak-anak dan orang tua.

Mengapa kita harus begitu takut pada asap ini? Karena musuh kita tidak terlihat oleh mata. BMKG menegaskan, ancaman utama kabut asap kali ini adalah konsentrasi partikel halus PM2,5 yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Dinas Kesehatan Aceh Singkil melalui Plt. Kadisnya, Mursal, mengingatkan bahwa kondisi asap ini tidak boleh dianggap sepele, dampaknya paling berisiko bagi kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita asma atau penyakit kronis.

Penulis pernah berdiskusi dengan tenaga medis di lapangan. Mereka mengatakan, di daerah yang terpapar asap karhutla, kasus ISPA yang tadinya berada di peringkat 9 atau 8, kini naik menjadi peringkat 2 setelah hipertensi, perkembangannya sudah tiga kali lipat. ISPA itu bukan sekadar batuk pilek biasa. PM2.5 itu partikel yang tidak bisa disaring oleh bulu hidung. Ia langsung masuk ke paru-paru, ke alveoli, bahkan ke dalam darah.

Lalu apa yang harus kita lakukan ketika langit Aceh mulai berasap seperti hari ini?

Pengalaman jerebu Malaysia 2015 mengajarkan penulis, yang pertama menyelamatkan kita bukanlah pemerintah, melainkan rumah kita sendiri. Gubernur Aceh Muzakir Manaf sudah mengimbau dengan tepat, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika polusi udara meningkat, menggunakan masker yang sesuai jika harus beraktivitas di luar, serta menjaga kualitas udara di dalam rumah dengan menutup jendela dan ventilasi saat asap semakin pekat. Namun, mari kita jujur, masker kain yang kita pakai sehari-hari tidak mampu menahan PM2,5. Kita butuh masker N95 atau KN95. Kita butuh rumah yang menjadi benteng, bukan menjadi perangkap asap.

Di tingkat gampong, kita harus kembali pada ajaran paling dasar, jangan membakar. Dinas Kesehatan Aceh Singkil dan Aceh Selatan sudah mengingatkan hal yang sama, agar masyarakat tidak melakukan pembakaran terbuka, baik sampah maupun lahan, karena itu akan memperburuk kualitas udara yang kita hirup bersama. Larangan ini harus menjadi kesadaran kolektif, bukan sekadar spanduk imbauan. Sebab satu puntung rokok yang dibuang di lahan gambut yang kering, atau satu hektare lahan yang sengaja dibakar untuk kebun sawit, asapnya akan dihirup oleh ribuan bayi di Aceh.

Dan di tingkat pemerintah, kita tidak bisa lagi bekerja sendiri-sendiri. Kajian ilmiah terbaru mencatat, lonjakan hotspot pada periode 2024-2025 meningkat 9,43% dari 1.601 menjadi 1.752 titik, dan akar masalahnya adalah lemahnya koordinasi dan tumpang tindih kewenangan. Jika koordinasi tidak diperbaiki, api kecil yang tidak dipadamkan cepat akan menyebar menjadi asap lintas provinsi. Solusinya sudah ada di depan mata, sekat kanal untuk membasahi kembali gambut, patroli terpadu, dan penegakan hukum yang tidak hanya menyasar petani kecil.

Dua hari ini langit Aceh berasap. Dua hari ini pula kita diuji, apakah kita akan menganggapnya sebagai kabut musiman yang biasa, atau sebagai peringatan keras dari Allah SWT bahwa kita telah merusak amanah bumi?

QS Ar-Rum ayat 41 mengingatkan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.”

Asap yang menyelimuti Aceh hari ini adalah kerusakan yang tampak itu. Ia datang bukan karena takdir cuaca semata, tetapi karena tangan kita yang lalai menjaga gambut, tangan kita yang memilih jalan pintas dengan membakar.

Penulis adalah Mantan Ketua BP KNPI Malasyia (2015-2016)

Penulis

Redaktur

Kontributor Media Civitas.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komentar akan tampil setelah disetujui moderator.