Tuesday, 13 October 2026
Cuaca Jakarta Memuat cuaca...
Opini October 12, 2026 Redaktur 3 menit baca

Ketika Asap KARHUTLA Merampas Nafas Aak, Ibu, Dan Lansia Kita

Oleh: Erlinda Fitriawati, MA

Asap karhutla tidak pernah mengetuk pintu. Ia menyelinap. Ia masuk melalui celah jendela dapur, melalui jemuran baju anak-anak, melalui kelambu tempat orang tua kita terlelap. Dan yang pertama kali menyadari penyusupan itu, selalu perempuan.

Laki-laki mungkin melihat karhutla sebagai berita tentang hektar lahan yang terbakar. Tapi bagi perempuan, karhutla adalah tentang napas yang dicuri dari dalam rumahnya sendiri.

Ketika langit Sumatera atau Kalimantan menjadi kuning pekat, anak-anak adalah penyaring udara yang paling pertama. Secara medis, anak menghirup udara dua kali lebih cepat dari orang dewasa. Paru mereka yang masih dalam masa pertumbuhan belum mampu menyaring partikel PM2.5 dari asap karhutla. Racun itu masuk terlalu dalam, terlalu cepat.

Bagi seorang ibu, dampak karhutla bukan angka ISPA di Puskesmas. Dampaknya adalah: Anaknya yang batuk hingga muntah di tengah malam, sekolah yang diliburkan berminggu-minggu hingga tumbuh kembangnya terhambat, dan masker kain seadanya yang ia jahit sendiri karena masker N95 tak terjangkau.

Anak tidak bisa protes kepada pembakar lahan. Ia hanya bisa menangis, dan ibunya yang menerjemahkan tangis itu sebagai: “Bu, aku sesak.” Inilah ironi yang jarang dibicarakan, Saat karhutla terjadi, anjuran pemerintah adalah “tetap di dalam rumah.”

Tapi di dalam rumah itulah, perempuan justru terkurung paling lama bersama asap. Perempuan menghabiskan 80% waktunya di domestik – memasak, mengasuh, merawat. Ketika asap karhutla setebal selimut menyelimuti desa, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, berubah menjadi ruang gas beracun.

Bagi perempuan hamil, risikonya berlipat ganda. Penelitian menemukan paparan asap karhutla meningkatkan risiko kelahiran prematur, berat bayi lahir rendah (BBLR), dan preeklampsia. Bagi perempuan itu sendiri, paparan kronis PM2.5 dari karhutla meningkatkan risiko kanker paru dan penyakit jantung, bahkan pada yang tidak pernah merokok seumur hidupnya.

Perempuan bukan hanya korban. Ia adalah manajer krisis tanpa anggaran. Ia yang harus memastikan air minum tetap bersih dari abu, makanan tetap layak, anak tetap di dalam rumah, dan orang tua tetap tenang, sementara ia sendiri menahan pusing karena sesak.

Jika anak-anak adalah korban masa depan yang dirampas, maka orang tua adalah korban masa lalu yang dilupakan. Paru-paru lansia telah bekerja 60-70 tahun. Elastisitasnya menurun. Ketika asap karhutla datang, tubuh mereka tidak lagi mampu melawan. Data KLHK dan Kementerian Kesehatan mencatat, setiap kejadian karhutla berat, kunjungan lansia dengan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), stroke, dan serangan jantung melonjak hingga 40%.

Bagi seorang anak perempuan yang merawat ayah ibunya yang sepuh, karhutla adalah kecemasan ganda. Ia harus menjaga anaknya agar tidak berlarian keluar, sambil menjaga orang tuanya agar tidak keluar masuk kamar mandi tanpa masker. Ia terjaga sepanjang malam, mendengarkan dua jenis napas yang sama-sama berat: napas anaknya dan napas ibunya.

Selama ini kita memadamkan karhutla dari helikopter dengan water bombing. Kita melihatnya dari satelit hotspot. Tapi kita lupa melihatnya dari dapur.

Jika kebijakan karhutla ingin berhasil, libatkan kacamata perempuan:

Pertama, jadikan Perempuan sebagai Sistem Peringatan Dini. Ibu-ibu PKK, kader Posyandu adalah pihak pertama yang tahu berapa anak yang batuk, berapa lansia yang sesak. Data mereka lebih cepat dari data satelit.

Kedua, jadikan Perlindungan Kelompok Rentan sebagai Prioritas Utama. Saat status siaga darurat asap, negara harus hadir dengan masker layak, oksigen, dan tempat pengungsian bersih (clean air shelter) khusus ibu hamil, anak, dan lansia – bukan membiarkan mereka membeli sendiri.

Ketiga, hentikan Narasi “Asap Musiman yang Biasa”. Tidak ada yang biasa dari seorang ibu yang harus memilih antara membuka jendela untuk sirkulasi atau menutupnya agar asap tidak masuk. Itu adalah kondisi darurat kemanusiaan.

Asap karhutla pada akhirnya akan hilang ditiup angin. Hutan akan tumbuh lagi, meski butuh puluhan tahun. Tapi bagi seorang perempuan, trauma menjaga napas anak dan orang tuanya di tengah kepungan asap, tidak akan pernah benar-benar hilang.

Dan seharusnya, tidak ada satu pun perempuan di negeri ini yang harus berjuang sendirian untuk sekadar mempertahankan hak keluarganya untuk bernapas.

Penulis adalah Ketua Yayasan Insan Traning Nusantara

Penulis

Redaktur

Kontributor Media Civitas.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komentar akan tampil setelah disetujui moderator.