Monday, 12 October 2026
Cuaca Jakarta Memuat cuaca...
Opini October 11, 2026 Herry Setiawan 4 menit baca

KARHUTLA: BENCANA PAKAN DAN TERNAK YANG TERLUPAKAN

Oleh: Hayatun Nupus, S.Pt., M.Si

Setiap musim kebakaran hutan dan lahan (karhutla), perhatian kita hampir selalu tertuju pada dampaknya bagi manusia dan terganggunya transportasi. Jarang sekali kita bertanya, bagaimana nasib sapi, kerbau, kambing, dan ayam yang tidak bisa memakai masker, tidak bisa mengungsi, dan harus tetap bertahan menghirup asap yang sama dalam waktu yang lama.

Padahal, dalam perspektif ilmu peternakan, karhutla adalah bencana peternakan yang dampaknya paling merusak dan paling lama dirasakan. Pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) oleh Presiden Prabowo adalah momentum yang tepat untuk akhirnya memasukkan sektor peternakan ke dalam peta besar penanganan karhutla nasional.

Selama ini kebijakan penanganan karhutla cenderung bersifat anthroposentris, hanya berfokus pada manusia. Padahal di sekitar kawasan gambut, hidup jutaan ekor ternak yang dipelihara peternak kecil dan menggantungkan hidupnya pada lanskap tersebut.

Sebagai akademisi di bidang peternakan, saya melihat setidaknya empat dampak karhutla pada sektor peternakan yang selama ini luput dari perhatian.

1. Krisis Pakan yang Tidak Terlihat: Ketika Hijauan Menjadi Tidak Layak

Dampak pertama dan paling langsung adalah terganggunya sumber pakan. Peternak rakyat di lahan gambut sangat bergantung pada hijauan alami seperti rumput rawa, kumpai, dan pelepah sawit. Ketika lahan gambut terbakar, sumber pakan ini hilang dalam sekejap.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah hijauan yang tidak terbakar namun terpapar asap tebal dalam waktu lama. Secara kasat mata rumput masih hijau, namun sesungguhnya sudah terkontaminasi debu, partikel halus, dan senyawa sisa pembakaran yang menempel di permukaan daun.

Jika dikonsumsi ternak secara terus-menerus, hijauan yang terpapar asap tersebut dapat menurunkan daya cerna pakan dan berpotensi mengganggu kesehatan ternak. Sapi menjadi kurus meski makan banyak. Peternak menjadi bingung, karena tanpa hijauan itu pun ternaknya terancam kelaparan. Ini adalah dilema pakan yang dihadapi peternak setiap musim asap.

2. Gangguan Kesehatan Ternak: ISPA dan Gangguan Reproduksi

Kita mengenal ISPA pada manusia, namun ternak juga mengalami gangguan pernapasan yang serupa, bahkan bisa lebih berat. Sistem pernapasan ruminansia seperti sapi dan kerbau sangat sensitif terhadap udara yang penuh partikel asap.

Ternak yang terpapar asap terus-menerus akan menunjukkan gejala stres pernapasan, seperti frekuensi napas yang meningkat, keluar lendir dari hidung, mata berair, dan hilangnya nafsu makan.

Dampak paling menyedihkan terjadi pada induk bunting. Paparan asap yang mengandung gas berbahaya dalam waktu lama diyakini dapat mengganggu pasokan oksigen ke janin, sehingga meningkatkan risiko keguguran. Bagi peternak kecil, keguguran seekor pedet bukan hanya kehilangan biologis, tapi juga kehilangan aset ekonomi yang sangat berharga. Kerugian seperti ini tidak pernah tercatat sebagai kerugian akibat karhutla.

Pada unggas, dampaknya lebih cepat terlihat. Ayam yang dipelihara di kandang terbuka di sekitar lahan berasap akan mudah stres, sulit membuang panas tubuh, dan berujung pada kematian.

3. Kerusakan Lahan Penggembalaan Jangka Panjang

Ini adalah dampak yang paling lama. Lahan gambut yang terbakar mengalami perubahan sifat tanah yang drastis. Tanah menjadi semakin asam dan kehilangan kemampuannya untuk menahan air.

Padang penggembalaan alami yang tadinya ditumbuhi rumput pakan akan mati. Yang tumbuh setelahnya seringkali bukan lagi rumput yang disukai ternak, melainkan semak dan pakis-pakisan yang tidak bernilai pakan.

Pemulihan padang penggembalaan gambut pasca kebakaran membutuhkan waktu bertahun-tahun. Selama masa pemulihan itu, peternak terpaksa membeli pakan dari luar dengan biaya yang jauh lebih mahal. Tidak sedikit peternak yang akhirnya terpaksa menjual ternaknya dengan harga murah karena tidak sanggup lagi memberi pakan. Di sinilah karhutla secara perlahan menciptakan kemiskinan baru.

4. Apa Peran BPGMN dari Kacamata Peternakan?

Jika BPGMN hanya fokus pada sekat kanal dan penanaman pohon, ia akan melewatkan satu aktor penting: peternak. Dari perspektif ilmu peternakan, saya mengusulkan tiga pendekatan yang bisa diintegrasikan ke dalam mandat BPGMN.

Pertama, Lumbung Pakan Gambut Basah. BPGMN perlu mengembangkan bank pakan hidup di zona penyangga gambut dengan memanfaatkan jenis hijauan yang adaptif di lahan basah dan tahan asam, seperti kumpai tembaga, rumput gajah gambut, dan indigofera. Jika gambutnya basah, lumbung pakan ini tidak akan mudah terbakar dan bisa menjadi cadangan pakan saat musim kemarau panjang.

Kedua, Integrasi Ternak-Gambut sebagai Pencegah Kebakaran Alami. Ini adalah konsep yang telah kami uji di Aceh. Sapi dan kerbau yang digembalakan secara terkontrol dapat berperan sebagai pemangkas alami. Mereka memakan semak dan bahan bakar halus yang menjadi pemicu api. Kotorannya sekaligus menjadi pupuk organik yang membantu menjaga kelembaban tanah gambut. Dengan manajemen yang tepat, peternakan bukan ancaman bagi gambut, melainkan menjadi bagian dari sistem pencegahan kebakaran secara biologis.

Ketiga, Perlindungan bagi Peternak. Pemerintah perlu memasukkan risiko karhutla ke dalam skema Asuransi Usaha Ternak. Selain itu, sistem peringatan dini karhutla seharusnya tidak hanya memberikan peringatan bahaya api, tetapi juga peringatan bagi peternak untuk segera mengamankan pakan melalui pembuatan silase atau pakan awetan.

Dalam falsafah peternakan rakyat, ternak adalah tabungan hidup. Ketika karhutla datang, yang terbakar bukan hanya hutan, tapi juga tabungan itu.Selama ini kita memadamkan api dengan air. Dari kacamata peternakan, kita juga bisa ikut memadamkan api dengan rumput dan ternak, asalkan gambutnya tetap basah.

Jika BPGMN berhasil menjaga gambut tetap basah, ia tidak hanya menyelamatkan pohon, tapi juga menyelamatkan pakan, ternak, dan masa depan peternak kecil di sekitarnya.Penulis adalah alumni Peternakan Universitas Syiah Kuala saat ini Aktif Sebagai salah satu dosen di Politeknik Indonesia Venezuela, pada program Studi Teknologi Pengolahan Hasil Ternak.

Penulis

Herry Setiawan

Kontributor Media Civitas.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komentar akan tampil setelah disetujui moderator.