BANDA ACEH — Pusat Riset Kopi dan Kakao Aceh (PRKKA), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Syiah Kuala (USK), menyelenggarakan International Guest Lecture dengan tema “Strategic Conservation through Coffee Agroforestry: Collaboration among Government, Local Communities, and Farmers for Landscape Sustainability”, 16/09/2026.
Kegiatan yang didukung oleh WWF Indonesia ini menjadi ruang akademik dan strategis untuk mempertemukan perspektif internasional, pengalaman konservasi lapangan, pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat lokal, serta petani dalam membangun model pengelolaan lanskap yang mampu mengintegrasikan kepentingan konservasi biodiversitas dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
International Guest Lecture menghadirkan dua narasumber dari World Wide Fund for Nature (WWF), yaitu Paul De Ornellas, Chief Advisor, Wildlife, WWF-United Kingdom, dan Jamal Fida dari WWF-Indonesia.
Paul De Ornellas menyampaikan materi mengenai general conservation, biodiversity decline, serta pentingnya kolaborasi dalam aksi konservasi. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa penurunan biodiversitas merupakan persoalan global yang membutuhkan pendekatan konservasi yang tidak hanya berorientasi pada perlindungan kawasan, tetapi juga membangun kolaborasi dengan masyarakat dan para pemangku kepentingan yang hidup dan bekerja di dalam lanskap.
Menurut Paul, keberhasilan konservasi sangat ditentukan oleh kemampuan berbagai pihak untuk bekerja bersama, memahami kepentingan masing-masing, serta membangun aksi nyata yang memberikan manfaat bagi alam dan manusia. Dalam konteks lanskap pertanian, termasuk perkebunan kopi, praktik pengelolaan lahan yang memperhatikan fungsi ekologis dapat menjadi bagian penting dari strategi konservasi.
Sementara itu, Jamal Fida dari Program Peusangan Elephant Concervaion Initiave (PECI), WWF Indonesia memaparkan pengalaman dan perkembangan program konservasi gajah di Lanskap Peusangan. Materi tersebut memberikan gambaran mengenai kompleksitas konservasi satwa liar, khususnya gajah Sumatra, yang memiliki keterkaitan erat dengan kondisi habitat, aktivitas masyarakat, penggunaan lahan, serta pengelolaan lanskap secara keseluruhan.
Kegiatan tersebut diikuti oleh dosen, praktisi, pemerintah, organisasi non-pemerintah (NGO), serta mahasiswa, sehingga diskusi berlangsung dari berbagai perspektif, mulai dari akademik, konservasi, pengelolaan sumber daya alam, pemberdayaan masyarakat, hingga kepentingan generasi muda.
Lanskap Peusangan dipandang memiliki nilai strategis karena mempertemukan kepentingan konservasi biodiversitas dengan aktivitas sosial-ekonomi masyarakat, termasuk perkebunan dan pertanian. Karena itu, pendekatan konservasi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat lokal, petani, perguruan tinggi, dunia usaha, dan organisasi konservasi.
Kopi Agroforestri sebagai Jembatan Konservasi dan Ekonomi Masyarakat
Tema International Guest Lecture memiliki relevansi yang kuat dengan pengembangan komoditas kopi Aceh, terutama karena sistem agroforestri kopi berpotensi menjadi pendekatan yang menghubungkan kepentingan ekonomi petani dengan keberlanjutan ekologis lanskap.
Melalui agroforestri, kebun kopi tidak semata-mata dipandang sebagai ruang produksi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang dapat mendukung fungsi ekologis, menjaga tutupan vegetasi, memperkuat konektivitas habitat, serta memberikan sumber pendapatan bagi masyarakat.
Dalam perspektif tersebut, petani tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat program konservasi, tetapi sebagai aktor utama pengelolaan lanskap. Keberhasilan konservasi membutuhkan insentif ekonomi, peningkatan kapasitas, kepastian usaha, serta keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan.
Pendekatan inilah yang menjadi salah satu pesan penting dari kuliah tamu, bahwa konservasi tidak dapat berdiri sendiri. Konservasi membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan harus mampu membangun hubungan yang saling menguntungkan antara perlindungan biodiversitas dan pembangunan ekonomi masyarakat.
PRKKA USK Dorong Sinergi Riset Kopi dan Konservasi
Kepala Pusat Riset Kopi dan Kakao Aceh USK, Prof. Dr. Ir. Abubakar Karim, M.S., menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki arti strategis bagi PRKKA karena memperluas perspektif pengembangan kopi Aceh dari sekadar aspek produksi dan ekonomi menuju pendekatan lanskap yang mengintegrasikan aspek lingkungan dan konservasi.
Menurutnya, pengembangan kopi Aceh ke depan perlu memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam, kondisi ekosistem, serta kesejahteraan petani. Kolaborasi dengan WWF dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat riset dan inovasi PRKKA dalam pengembangan kopi berbasis agroforestri dan lanskap berkelanjutan.
Prof. Abubakar juga menekankan pentingnya menjadikan hasil riset perguruan tinggi sebagai dasar bagi penyusunan program dan kebijakan pengembangan komoditas kopi yang lebih berkelanjutan.
LPPM USK: Riset Harus Menjawab Persoalan Nyata
Ketua LPPM USK, Prof. Dr. Taufiq C. Dawood, S.E., M.Ec.Dev., memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan International Guest Lecture yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman praktis konservasi di tingkat lapangan.
Menurutnya, kegiatan seperti ini sejalan dengan peran perguruan tinggi dalam menghasilkan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang mampu menjawab persoalan nyata. Kolaborasi antara USK, WWF, pemerintah, masyarakat, dan petani menjadi penting untuk menghasilkan model pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan.
Ia juga melihat tema agroforestri kopi sebagai isu yang strategis bagi Aceh karena kopi merupakan salah satu komoditas unggulan yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sekaligus kondisi ekologis wilayah pegunungan dan lanskap sekitarnya.
Fakultas Pertanian USK: Petani Harus Menjadi Bagian dari Solusi
Dekan Fakultas Pertanian USK, Prof. Dr. Ir. Sabaruddin, M.Agr.Sc., menilai bahwa pengembangan agroforestri kopi membutuhkan pendekatan multidisiplin dan kolaboratif.
Menurutnya, persoalan konservasi dan pembangunan pertanian tidak dapat dipisahkan. Petani merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan lanskap karena aktivitas budidaya mereka secara langsung berinteraksi dengan sumber daya alam.
Karena itu, pengembangan agroforestri kopi perlu didukung dengan inovasi teknologi, peningkatan kapasitas petani, penguatan kelembagaan, akses pasar, serta kebijakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan demikian, konservasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas dan pendapatan petani.
WWF Indonesia Perkuat Kolaborasi di Lanskap Peusangan
Dr. Muhammad Ali Imron (Forest and Wildlife Program Director WWF-Indonesia) turut memberikan pandangan mengenai pentingnya membangun kolaborasi jangka panjang antara organisasi konservasi, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Menurutnya, Lanskap Peusangan merupakan ruang yang memiliki berbagai kepentingan dan fungsi, sehingga pengelolaannya membutuhkan pendekatan kolaboratif. Konservasi gajah, perlindungan biodiversitas, pengelolaan habitat, serta pengembangan mata pencaharian masyarakat harus ditempatkan dalam kerangka pengelolaan lanskap yang terintegrasi.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti USK dinilai penting untuk memperkuat basis ilmiah dalam perencanaan dan evaluasi program konservasi, sekaligus menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan oleh masyarakat.
Menuju Model Lanskap Kopi yang Berkelanjutan
International Guest Lecture PRKKA USK ini tidak hanya menjadi forum pertukaran pengetahuan internasional, tetapi juga membuka ruang untuk memperkuat kerja sama konkret antara USK, WWF, pemerintah, masyarakat lokal, dan petani dalam pengelolaan lanskap.
Diskusi yang berkembang dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa masa depan konservasi membutuhkan pendekatan yang lebih terintegrasi. Perlindungan biodiversitas, keberlanjutan pertanian, peningkatan kesejahteraan petani, dan penguatan ekonomi lokal perlu dirancang sebagai bagian dari satu sistem pengelolaan lanskap.
Dalam konteks Aceh, kopi agroforestri dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun model tersebut. Kebun kopi dapat berfungsi sebagai ruang produksi sekaligus bagian dari lanskap ekologis yang mendukung keberadaan biodiversitas dan konektivitas habitat.
Melalui kolaborasi multipihak, pendekatan ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi model yang dapat direplikasi di berbagai wilayah sentra kopi Aceh, termasuk kawasan yang memiliki nilai penting bagi konservasi satwa liar.
International Guest Lecture tersebut sekaligus memperkuat komitmen PRKKA LPPM USK untuk menjadikan riset kopi, agroforestri, konservasi biodiversitas, dan pemberdayaan petani sebagai bagian dari agenda pengembangan lanskap Aceh yang berkelanjutan. Dari kopi untuk masyarakat, dari agroforestri untuk keberlanjutan, dan dari kolaborasi untuk konservasi.[]

