Sunday, 01 November 2026
Cuaca Jakarta Memuat cuaca...
Opini November 1, 2026 Redaktur 8 menit baca

Ketika Asap Karhutla Mengancam Ibu dan Anak, dan Peran Bidan di Garda Terdepan

Oleh: Bd. Rahmisyah,SST., M.Kes

Setiap musim kemarau panjang, sebagian wilayah Indonesia, terutama Sumatera dan Kalimantan, berubah rupa. Matahari tampak seperti cakram oranye pucat, jarak pandang menyusut, dan udara terasa pekat. Bagi kebanyakan orang, kabut asap berarti mata perih dan batuk. Namun bagi ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita, asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyimpan ancaman yang jauh lebih dalam dan sering tidak disadari. Asap karhutla bukan sekadar masalah lingkungan atau transportasi. Ia adalah masalah kesehatan ibu dan anak, dan karena itu juga masalah kebidanan. Bidan sebagai tenaga kesehatan yang paling dekat dengan perempuan di setiap fase kehidupannya, mulai dari remaja, calon pengantin, kehamilan, persalinan, nifas, hingga tumbuh kembang bayi dan balita, berada di posisi strategis untuk melindungi mereka.

Asap dari pembakaran hutan dan lahan, terutama lahan gambut, adalah campuran kompleks dari berbagai zat: Partikulat halus (PM2.5 µm dan PM10 µm). Partikel yang sangat kecil, PM2.5 berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer. Ukurannya yang mungil membuatnya mampu menembus jauh ke dalam paru-paru hingga alveolus, bahkan masuk ke aliran darah. Karbon monoksida (CO). Gas tak berbau yang mengikat hemoglobin lebih kuat daripada oksigen. Gas pencemar lain. Seperti nitrogen oksida, sulfur dioksida, ozon permukaan, dan senyawa organik volatil. Senyawa toksik. Seperti hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), formaldehida, dan akrolein. Kebakaran lahan gambut sangat berbahaya karena membara lama di bawah permukaan dan menghasilkan asap pekat dalam jumlah besar. Asap ini dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer, sehingga dampaknya tidak hanya dirasakan di sekitar titik api.

Di Indonesia, kualitas udara dilaporkan melalui Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dengan kategori baik, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, dan berbahaya. Bagi kelompok rentan seperti ibu hamil dan anak-anak, dampak kesehatan bisa muncul bahkan pada kategori “sedang” hingga “tidak sehat”.

Mengapa Ibu Hamil dan Anak Lebih Rentan?
Kehamilan mengubah tubuh perempuan secara fisiologis, dan perubahan itu membuatnya lebih rentan terhadap polusi udara: Kebutuhan oksigen meningkat. Ibu hamil bernapas lebih dalam dan lebih sering, sehingga volume udara tercemar yang terhirup bertambah. Diafragma terdorong ke atas oleh rahim yang membesar, sehingga kapasitas cadangan paru berkurang.Perubahan sistem imun. Respons imun ibu hamil berubah demi menjaga janin, sehingga kerentanan terhadap infeksi saluran napas dapat meningkat. Volume darah meningkat dan sering disertai anemia.

Anemia memperburuk kemampuan darah mengangkut oksigen, apalagi ketika CO mengambil tempat oksigen. Pada janin, bayi, dan balita. Organ yang masih berkembang; Paru-paru dan otak janin serta anak kecil masih dalam tahap pembentukan dan pematangan sehingga lebih mudah terganggu. Napas lebih cepat; Anak bernapas lebih sering per kilogram berat badan dibandingkan orang dewasa, sehingga menghirup lebih banyak polutan relatif terhadap ukuran tubuhnya. Saluran napas sempit; Peradangan ringan saja dapat menyebabkan hambatan napas yang signifikan. Dekat dengan tanah dan bergantung pada pengasuh; Anak tidak bisa memutuskan sendiri untuk menghindari paparan asap.

Dampak Asap Karhutla pada Kesehatan Ibu dan Anak


Berbagai penelitian tentang polusi udara dan kehamilan, termasuk studi yang berkaitan dengan paparan asap kebakaran hutan, mengaitkan paparan partikulat dengan sejumlah risiko: Berat badan lahir rendah (BBLR). Paparan polutan dikaitkan dengan penurunan pertumbuhan janin. BBLR merupakan faktor risiko penting bagi kesakitan dan kematian bayi baru lahir. Kelahiran prematur. Peradangan sistemik dan stres oksidatif akibat polutan diduga memicu proses persalinan lebih awal. Gangguan pertumbuhan janin (PJT/IUGR). Penurunan pasokan oksigen dan gangguan fungsi plasenta dapat menghambat pertumbuhan janin. Gangguan hipertensi dalam kehamilan. Beberapa studi menunjukkan hubungan antara polusi udara dan peningkatan risiko preeklamsia. Keluhan pernapasan ibu. Batuk, sesak, eksaserbasi asma, serta iritasi mata dan tenggorokan dapat memengaruhi kenyamanan, tidur, dan asupan nutrisi. Risiko keguguran dan lahir mati. Beberapa penelitian mengindikasikan kemungkinan hubungan, namun bukti masih terus dikaji.

Masa Persalinan dan Nifas


Kondisi pernapasan ibu yang terganggu dapat memengaruhi toleransi terhadap persalinan. Janin yang sudah berisiko hipoksia dapat lebih rentan terhadap gawat janin. Pada masa nifas, ibu yang kurang istirahat, kurang gizi, dan terpapar asap lebih rentan mengalami infeksi saluran napas dan kelelahan, yang memengaruhi pemulihan dan produksi ASI.

Bayi dan Balita


ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Ini dampak paling umum dan paling mudah dikenali: batuk, pilek, sesak, hingga pneumonia. Eksaserbasi asma dan mengi. Iritasi mata dan kulit. Gangguan tumbuh kembang. Infeksi berulang menguras energi dan nafsu makan anak, sehingga berkontribusi pada gizi kurang dan stunting. Gangguan jangka panjang. Paparan polusi pada masa awal kehidupan dikaitkan dengan penurunan fungsi paru dan kemungkinan memengaruhi perkembangan saraf. Salah satu penelitian ekonomi-kesehatan yang cukup terkenal membahas dampak kebakaran hutan Indonesia tahun 1997 terhadap kematian bayi dan anak. Studi tersebut menunjukkan bahwa dampak asap dapat meluas dari sekadar gangguan napas menjadi hilangnya nyawa anak-anak, terutama di wilayah yang paling terpapar. Ini menjadi pengingat bahwa asap karhutla adalah isu kesehatan masyarakat yang serius.

Mekanisme: Bagaimana Asap Bisa Memengaruhi Janin?


Bagaimana partikel di udara bisa memengaruhi bayi yang terlindung di dalam rahim? Ada beberapa jalur yang diduga berperan: Hipoksia. CO terhirup oleh ibu, mengikat hemoglobin membentuk karboksihemoglobin, dan mengurangi oksigen yang tersedia bagi janin. Hemoglobin janin bahkan lebih mudah mengikat CO. Peradangan dan stres oksidatif. Partikel halus memicu respons peradangan sistemik yang dapat memengaruhi fungsi plasenta. Gangguan plasenta. Perubahan aliran darah dan transfer nutrisi dapat menghambat pertumbuhan janin. Efek zat toksik. Beberapa komponen asap, seperti PAH, diduga berpotensi mengganggu perkembangan janin.

Dimensi Kebidanan: Mengapa Ini Urusan Bidan?


Bidan memiliki ruang lingkup pelayanan yang melintasi seluruh siklus hidup perempuan. Inilah mengapa isu karhutla relevan bagi profesi Bidan ini karena Ruang Lingkup Kebidanan yang terdiri dari pelayanan Pelayanan pranikah dan prakonsepsi, Asuhan kehamilan (ANC), Asuhan persalinan, Asuhan nifas dan menyusui, Asuhan bayi baru lahir dan balita, Kesehatan reproduksi dan keluarga. Keterkaitan dengan Asap Karhutla an tara lain : Edukasi risiko lingkungan sebelum hamil, Pemantauan risiko BBLR, prematur, hipertensi, dan anemia, Kesiapan menghadapi gawat janin dan komplikasi pernapasan, Dukungan ASI, pencegahan infeksi, dan pemulihan, Deteksi dini ISPA dan pemantauan tumbuh kembang, dan Edukasi keluarga, termasuk perilaku rumah tangga.

Dalam konteks bencana, bidan juga berperan dalam kesehatan reproduksi pada situasi krisis, memastikan kebutuhan ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi tetap terpenuhi saat terjadi bencana asap.

Peran Praktis Bidan Saat dan Sebelum Musim Asap Pencegahan dan Kesiapsiagaan (Sebelum Musim Karhutla)


Pemetaan sasaran rentan. Daftar ibu hamil (terutama trimester akhir dan yang berisiko tinggi), ibu nifas, bayi, dan balita di wilayah rawan karhutla. Edukasi sejak dini melalui kelas ibu hamil, posyandu, dan kunjungan rumah. Koordinasi lintas sektor dengan puskesmas, BPBD, dinas kesehatan, perangkat desa, dan kader. Penyiapan logistik. Masker, oksimeter bila tersedia, dan rujukan yang jelas.

Saat Asap Pekat (Masa Tanggap) Untuk ibu hamil


Pantau kualitas udara melalui informasi ISPU dari BMKG atau KLHK. Tetap di dalam ruangan dengan pintu dan jendela tertutup saat kualitas udara buruk. Gunakan masker N95/KN95 yang pas di wajah bila harus keluar. Masker kain atau bedah biasa kurang efektif menyaring partikel halus. Perbanyak minum air putih dan konsumsi gizi seimbang. Hindari aktivitas fisik berat di luar ruangan. Tetap lakukan pemeriksaan kehamilan sesuai jadwal, dan segera ke fasilitas kesehatan jika ada tanda bahaya.

Untuk ibu menyusui


Teruskan ASI. ASI tetap menjadi perlindungan terbaik bagi bayi, dengan antibodi yang membantu melawan infeksi. Jaga hidrasi dan nutrisi ibu. Hindari paparan asap berlebihan dan jaga kebersihan tangan serta payudara.

Untuk bayi dan balita


Jangan biarkan bermain di luar ruangan saat asap pekat. Jaga kelembapan ruangan dan kebersihan lingkungan. Pastikan imunisasi tetap lengkap. Pantau tanda ISPA dan gangguan napas.

Tips Menciptakan “Ruang Bersih” di Rumah
Tutup celah pintu dan jendela, Gunakan kipas atau pembersih udara berfilter HEPA bila memungkinkan. Hindari sumber polusi tambahan di dalam rumah: asap rokok, obat nyamuk bakar, dan pembakaran sampah. Bersihkan lantai dengan kain basah, jangan disapu kering yang menerbangkan debu.Tanda Bahaya yang Harus Diwaspadai
Tanda Bahaya Yang Harus Diwaspadai Pada ibu hamil, segera cari pertolongan jika mengalami: Sesak napas berat atau napas sangat cepat, Nyeri dada, Pusing hebat, pandangan kabur, atau sakit kepala berat, Gerakan janin berkurang atau tidak terasa, Perdarahan atau keluar cairan dari jalan lahir, Kontraksi teratur sebelum waktunya. Pada bayi dan balita, segera bawa ke fasilitas kesehatan jika: Napas cepat atau tarikan dinding dada ke dalam, Bibir atau wajah tampak kebiruan, Demam tinggi, sulit minum atau menyusu, Sangat lemas atau rewel tidak biasa, Batuk berkepanjangan disertai mengi


Dimensi Sosial: Masalah yang Lebih Luas dari Sekadar Medis


Dampak karhutla pada ibu dan anak tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan faktor sosial dan ekonomi:
Kemiskinan dan keterbatasan akses. Keluarga berpenghasilan rendah kurang mampu membeli masker berkualitas atau pembersih udara, dan rumahnya sering tidak kedap. Gangguan layanan kesehatan. Sekolah diliburkan, transportasi terganggu, dan fasilitas kesehatan bisa kewalahan. Gangguan mata pencaharian. Penurunan pendapatan keluarga berdampak pada asupan gizi. Beban psikologis. Kecemasan, stres, dan keterbatasan ruang gerak memengaruhi kesehatan mental ibu, yang pada gilirannya berpengaruh pada kehamilan dan pengasuhan. Karena itulah pendekatan kebidanan yang holistik, memandang perempuan sebagai pribadi utuh dalam konteks keluarga dan komunitasnya, sangat relevan.

Advokasi: Bidan sebagai Suara Perempuan dan Anak


Pencegahan terbaik adalah menghentikan api sebelum asap muncul. Karena itu peran bidan tidak berhenti di ruang periksa: Menyuarakan data dan pengalaman lapangan kepada pemangku kebijakan tentang dampak asap pada ibu dan anak. Mendukung upaya pencegahan karhutla di tingkat masyarakat, termasuk edukasi tentang bahaya membuka lahan dengan membakar. Mendorong sistem peringatan dini kesehatan yang menjangkau ibu hamil dan keluarga. Berkolaborasi dalam riset untuk memperkuat bukti ilmiah tentang dampak karhutla terhadap luaran kehamilan di Indonesia.

Langkah Praktis yang Bisa Dilakukan Keluarga
Cek kualitas udara setiap hari, dan jadikan ISPU sebagai panduan beraktivitas. Siapkan masker N95/KN95 dan pelajari cara memakainya dengan benar. Tetapkan satu ruangan sebagai “ruang bersih” di rumah. Jaga gizi dan hidrasi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak. Jangan menunda kontrol kehamilan dan imunisasi. Kenali tanda bahaya dan ketahui ke mana harus merujuk. Jangan ikut membakar sampah atau lahan. Jalin komunikasi dengan bidan desa atau puskesmas.


Setiap hembusan napas seorang ibu hamil adalah napas yang ia bagi dengan janin yang dikandungnya. Ketika udara tercemar, yang terdampak bukan hanya satu orang, melainkan dua nyawa, dan dengan itu masa depan sebuah generasi. Karhutla memang bukan persoalan yang bisa diselesaikan oleh satu profesi. Namun bidan, dengan kedekatannya pada perempuan dan keluarga, dapat menjadi penjaga napas pertama: yang mengedukasi, mendeteksi, mendampingi, merujuk, dan bersuara. Di tengah langit yang menguning, kehadiran bidan yang sigap dan peduli bisa menjadi perbedaan antara kehamilan yang terlindungi dan risiko yang terlambat dikenali. Udara bersih bukan kemewahan Ia adalah hak dasar setiap ibu dan anak.

Penulis adalah Dosen Program Pendidikan Profesi Bidan UBBG, Pengurus Pemuda ICMI Aceh

Penulis

Redaktur

Kontributor Media Civitas.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komentar akan tampil setelah disetujui moderator.