Hari ke-3 – Kamis, 3 September 2026
Rangkaian USM–USK International Academic Visit and Knowledge Exchange Program 2026 berlanjut pada hari ketiga dengan kunjungan lapangan ke Desa Teladan, Kabupaten Aceh Besar. Delegasi mahasiswa dan dosen bidang Proteksi Tanaman dari Universiti Sains Malaysia (USM) dan Universitas Syiah Kuala (USK) meninjau langsung pertanaman nilam serta proses penyulingan minyak nilam, sebagai tindak lanjut dari agenda sebelumnya di Pusat Riset Atsiri (ARC–PUI PT Nilam Aceh USK).
Kehadiran rombongan disambut hangat oleh Petani dan Geuchik Desa Teladan, yang menyampaikan apresiasi atas pendampingan teknologi budidaya dan penyulingan yang telah diperkenalkan melalui program ARC USK. Namun, ia juga menyoroti tantangan utama petani, yakni panjangnya rantai distribusi penjualan minyak nilam. “Kami berharap Pusat Riset dapat menjembatani solusi agar petani bisa menjual langsung kepada pembeli tanpa melalui perantara,” ujarnya.
Prof. Dr. Ir. Rina Sriwati, M.Si., selaku tim pelaksana kegiatan sekaligus Ketua Divisi Riset Pusat Riset Nilam USK, bersama dosen Proteksi Tanaman USK, memberikan arahan teknis terkait budidaya serta pengendalian hama dan penyakit nilam.
Menanggapi persoalan pemasaran, Prof. Rina menegaskan komitmen untuk menyampaikan aspirasi petani kepada instansi terkait, dengan harapan rantai distribusi dapat dipangkas sehingga memberikan keuntungan lebih besar bagi petani.
Delegasi USM yang diwakili oleh Assoc. Prof. Dr. Syahidah menambahkan perspektif internasional. Ia menekankan bahwa pemutusan rantai penjualan yang panjang hanya dapat tercapai dengan dukungan pemerintah. Sebagai perbandingan, komoditas jagung di pasar internasional relatif lebih stabil karena adanya mekanisme perdagangan berjangka, dukungan kebijakan pemerintah, serta regulasi di negara-negara produsen besar seperti Amerika Serikat dan Eropa. Jika komoditas nilam dapat memperoleh dukungan kebijakan serupa dan diintegrasikan ke dalam sistem perdagangan yang lebih terorganisasi, maka harga akan lebih terjamin dan petani memperoleh keuntungan yang lebih layak.
Kegiatan hari ketiga ditutup dengan demonstrasi penanganan pascapanen berupa pengeringan distilat dan penyimpanan hasil panen, serta sesi foto bersama. Agenda ini tidak hanya memperkuat sinergi akademik, tetapi juga membuka ruang solusi nyata bagi pemberdayaan petani nilam Aceh menuju pasar global yang lebih adil dan berkelanjutan.

