Banda Aceh, 30 Agustus 2026 – Upaya memperkuat ketahanan ekosistem pesisir di Kota Banda Aceh terus dilakukan melalui kolaborasi perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah gampong, dan masyarakat. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Gampong Binaan (PKM-BGB) Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Aceh Climate Change Initiative (ACCI-USK) dan 20 mahasiswa KKN Tematik menanam lebih dari 200 bibit mangrove di kawasan pesisir Gampong Alue Deah Teungoh, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, pada 30 Agustus 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program “Blue-Green Action: Penguatan Kelembagaan ProKlim melalui Mitigasi Pesisir dan Manajemen Limbah di Gampong Binaan Alue Deah Teungoh.” Program tersebut mengintegrasikan penguatan kelembagaan masyarakat, pengelolaan lingkungan, pengurangan risiko pesisir, serta rehabilitasi ekosistem mangrove sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan gampong terhadap dampak perubahan iklim.
Berbeda dari kegiatan penanaman mangrove yang hanya berfokus pada penanaman, aksi di Alue Deah Teungoh juga dilengkapi dengan sistem perlindungan bibit menggunakan bambu dan net atau jaring. Struktur tersebut dipasang di sekitar area penanaman untuk membantu mengurangi tekanan terhadap bibit mangrove, terutama akibat sampah laut, kerusakan fisik, serta dinamika arus dan pasang surut.
Pendekatan ini mengadaptasi konsep bamboo protector yang dikembangkan dalam program Blue-Green Action. Bamboo Protector merupakan sistem perlindungan mekanis berbahan bambu yang dirancang untuk membantu menjaga bibit mangrove pada fase awal pertumbuhan, ketika tanaman masih rentan terhadap tekanan lingkungan pesisir.
“Blue Action dirancang sebagai pendekatan yang menggabungkan rehabilitasi pesisir dengan perlindungan bibit secara adaptif. Melalui keterlibatan mahasiswa KKN Tematik dan masyarakat, kami berharap kegiatan ini dapat menjadi bagian dari penguatan ketahanan pesisir Gampong Alue Deah Teungoh,” ujar Prof. Sri Mulyati, Ketua Tim PKM-BGB USK.
Pemilihan pendekatan tersebut didasarkan pada kondisi kawasan pesisir Alue Deah Teungoh yang menghadapi berbagai tekanan lingkungan. Program Blue-Green Action sebelumnya mengidentifikasi rendahnya kelangsungan hidup bibit mangrove sebagai salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian, terutama karena paparan sampah plastik laut dan tekanan pasang surut.
Karena itu, intervensi Blue Action tidak hanya diarahkan pada penambahan tutupan mangrove, tetapi juga pada peningkatan peluang hidup bibit melalui perlindungan pada fase awal pertumbuhan. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN Tematik terlibat langsung dalam seluruh rangkaian kegiatan lapangan. Mereka turun ke kawasan pesisir untuk melakukan penanaman sekaligus membantu memasang struktur bambu dan net sebagai pelindung bibit.
Keterlibatan tersebut memperkuat pendekatan partisipatif dan pembelajaran berbasis pengalaman, di mana mahasiswa tidak hanya menjalankan kegiatan fisik di lapangan, tetapi juga belajar memahami persoalan ekologis dan sosial yang dihadapi masyarakat pesisir.
“Penanaman lebih dari 200 bibit mangrove diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat kembali fungsi kawasan pesisir Alue Deah Teungoh sebagai sabuk hijau alami” ungkap Ari Gunawan, Kepala Dusun di Alue Deah Teungoh.
Dalam jangka panjang, keberadaan mangrove diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan ketahanan kawasan pesisir terhadap abrasi dan dinamika pasang surut, sekaligus mendukung keberlanjutan fungsi ekologis kawasan pesisir.
Namun, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam. Pemeliharaan, perlindungan, pemantauan, dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk memastikan bibit yang telah ditanam dapat bertahan dan berkembang.
Karena itu, kolaborasi antara Tim PKM-BGB USK, ACCI-USK, mahasiswa KKN Tematik, Pemerintah Gampong Alue Deah Teungoh, dan masyarakat diharapkan dapat berlanjut pada tahap pemeliharaan dan pemantauan ekosistem mangrove.
“Kegiatan penanaman dan perlindungan mangrove ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat implementasi Program Kampung Iklim (ProKlim) di Gampong Alue Deah Teungoh” ungkap Irfan Zikri, Anggota Tim PKMBGB USK sekaligus Program Manager ACCI USK. Melalui aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim berbasis masyarakat, program ini diarahkan untuk membangun kapasitas gampong dalam menghadapi risiko perubahan iklim sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan.
Program Blue-Green Action juga mendukung komitmen kolaborasi ACCI-USK dengan Pemerintah Kota Banda Aceh dalam memperkuat agenda rencana aksi gender dan perubahan iklim. “Sinergi dengan Pemerintah Gampong Alue Deah Teungoh dan Dinas Lingkungan Hidup Banda Aceh diharapkan dapat memperkuat implementasi ProKlim dan mendorong berkembangnya aksi iklim yang melibatkan masyarakat secara lebih luas” tambah Irfan.

