Tuesday, 27 October 2026
Cuaca Jakarta Memuat cuaca...
Opini October 26, 2026 Redaktur 6 menit baca

Mengharap Kesantunan Para Perokok

(Didedikasikan untuk Alm. Ibnu Fajar, Korban Perokok Pasif)

Oleh: Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc

Ini adalah tulisan kedua penulis yang terkait rokok, sebelumnya pernah terbit di kolom opini Serambi Indonesia, koran kebanggaan rakyat Aceh dengan judul “Stop Abu-abu Soal Rokok”, 13/10/2025. Artinya tulisan ini ditulis setelah setahun duabelas hari lamanya. Agak berbeda dengan situasi saat itu, kali ini terasa lebih emosional dan seakan tulisannya menjadi amanah wajib untuk dituliskan.

Sekitar pukul 06.22 kemarin pagi 25/10/2026 di whatshapp penulis masuk sebuah pesan yang bertujuan untuk mengkonfirmasi kebenaran sekaligus menginformasikan bahwa seorang sahabat di kepengurusan Pemuda ICMI Aceh bernama Ibnu Fajar telah berpulang kerahmatullah tadi malam di RS. Fakinah Banda Aceh. Dan penulis langsung mengkonfirmasi melalui jalur pribadi ke nomor whatsappnya almarhum. Dan yang balas adalah istrinya.

Tiba-tiba rasa sedih bercampur duka yang dalam luar biasa berkecamuk di dada. Secara spontan penulis skrol kembali komunikasi sebelumnya. Terakhir berkomunikasi dengan almarhum adalah pada tanggal 9 Oktober 2026 lalu. Saat itu beliau tiba-tiba left dari WAG kepengurusan persis sesaat setelah penulis memosting informasi terkait rencana Mukhtamar Pemuda ICMI di Jakarta yang akan diselenggarakan akhir bulan nanti.

Melihat gelagat yang tidak biasa ini, penulis langsung berusaha menjapri almarhum untuk memastikan alasan keluar grup tersebut. Dan sungguh memilukan. Saat penulis bertanya “mengapa keluar grup?”. Beliau langsung menjawab “Gak ada Bang, saya sudah gak sanggup lagi banyak beraktifitas di luar rumah, dah 2 tahun berjuang dengan sakit TBC. Sedang fokus pemulihan kesehatan, ini saja 5 malam kemarin di opname di RS Bidadari karena pengobatan TBC nya Bang”.

Hanya saja karena saat itu penulis juga sedang mengalami batuk demam, penulis hanya menyampaikan rasa prihatin disertai doa semoga beliau segera sembuh. Dan menjelaskan bahwa belum bisa kemana-mana karena masih demam juga.

Tiba-tiba beliau balas seperti ini “Segera ke dokter Bang periksakan diri, saya aja gak nyangka Bang, sebab saya bukan perokok, ternyata menjadi korban para perokok, perokok pasif malah lebih rentan, sebab paru paru kita sangat tidak siap dengan Asap racun rokok tersebut”, ungkapnya.

Pesan ini disertai gambar foto bahwa saat itu beliau sedang dirawat di Rumah Sakit. Nyaris tidak dikenali, penampilan beliau begitu kurus dan pucat, sangat jauh dari kesan keseharian beliau yang gagah, tinggi, tegap dan sehat. Pantas dalam dua tahun ini beliau jarang bergabung dalam banyak kegiatan Pemuda ICMI Aceh.

Mencermati pesan beliau tersebut, jelas bahwa beliau merupakan korban sebagai perokok pasif, yakni orang yang tidak merokok namun terpaksa harus menghirup asap rokok di lingkungan sekitarnya. Dan kondisi seperti ini sangat lumrah dalam pergaulan sehari-hari. Disatu sisi kita tidak sanggup menghirupnya tetapi teman-teman atau orang disekitar kita sama sekali tidak peduli dengan kelemahan kita.

Penulis juga kebelakangan ini sangat jarang ikut kendurian di kampung baik itu kenduri hidup maupun kenduri mati. Hanya dengan alasan tidak mampu menghadapi kepungan asap rokok. Penulis juga agak sedikit milih-milih teman ngopi hanya dengan alasan alergi asap rokok ini.

Namun apa daya, asap rokok memang sangat sulit untuk dihindari karena lingkungan kita yang tidak pengertian, bahkan ada diantara kita yang kehilangan kesantunan dan atau bahkan etika untuk menghargai orang-orang yang tidak merokok. Mereka semua seakan tidak menyadari sedang merampas hak orang lain terhadap udara segar. Padahal kampanye anti rokok tidak sedikit disuarakan. Beberapa tempat-tempat tertentu telah sengaja dinobatkan oleh pemerintah atau pihak berwenang sebagai KTR atau Kawasan Tanpa Rokok lewat panplet dan stiker. Tapi justru yang melanggar tersebut muncul dari kalangan yang seharusnya memberi teladan.

Sepertinya kita memang tidak mungkin menutup pabrik rokok karena pemerintah masih sangat yakin dengan keuntungan devisa yang diperolehnya, padahal sudah dihitung oleh para ahli bahwa kerugian akibat penyakit yang disebabkan penghasil devisa tersebut lebih tinggi dari dari devisa yang disumbangkannya. Demikian pula melarang orang-orang agar tidak merokok, makin tidak mungkin lagi. Terlalu banyak dalih dan argumen untuk membenarkan perokok, seperti ingin menjadi pahlawan ekonomi yang memperjuangkan kehidupan para karyawan pabrik rokoklah, pahlawan bagi kesejahteraan untuk membela petani tembakaulah, dan entah apalagi, sampai-sampai berupaya mencari referensi bahkan dakwah sesat untuk bisa tetap merokok.

Tentu tulisan ini tidak bermaksud untuk memusuhi atau berperang dengan para “ahlulhisap”. Terserahlah bagi anda-anda yang merokok, itu adalah hak anda. Tetapi bagaimana dengan hak warga lain akan udara segar tanpa rokok. Inipun rasanya makin sulit dijawab saat ini mengingat asap “jerebu” Karhutla juga masih bergentayangan dimana-mana bahkan hingga menzalimi negara-negara tetangga.

Namun terlepas dari itu semua, memang umur atau usia itu ditangan Tuhan, sakitpun juga merupakan takdir, tetapi kalau bisa dicegah, mengapa tidak. Perokok aktif kalau sakit itu adalah kewajaran sebagai konsekuensi negatif dari kenikmatan yang telah dinikmatinya, tapi dengan perokok pasif, hal seperti ini tentu sangat menyedihkan.

Padahal kisah-kisah seperti ini sudah terlalu banyak, namun seolah tidak ada yang mempercayainya sebelum dia sendiri yang merasakannya. Pernah ada seorang ayah yang stres menyesali diri akibat tindakan merokoknya di dalam rumah dan menyebabkan penyakit berbahaya yang berujung kematian bagi bayinya. Dan silahkanlah pembaca untuk lebih banyak searching soal ini. Jangan pandang sepele, karena sudah terlalu banyak orang-orang yang bernasib sama dengan Bang Fajar atau bayi tadi.

Nah, jika pemerintah tidak mungkin menutup pabrik rokok, tidak mampu melarang orang merokok (peringatan sampul rokok hanya melepas kewajiban) dan kawasan tanpa rokok hanya pajangan seremoni, lantas apa solusinya?. Pertama, ada solusi yang sangat sederhana hanya bermodalkan pengertian dari perokok saja, yakni dengan penuh kesadaran untuk tidak merokok jika ada orang lain yang merasa terganggu oleh asapnya. Cukup memahami bahasa manusia, jika sudah kipas-kipas, menutup hidung, atau sinyal-sinyal lain yang menunjukkan ketergangguannya, maka stoplah merokok!.

Kedua, menggerakkan kekuatan kaum ibu agar melarang bapak atau anaknya merokok dengan dalih apapun. Hasil riset kecil-kecilan yang pernah penulis lakukan, nyaris tidak ada satu perempuanpun yang suka dengan laki-laki perokok, namun uniknya anak laki-laki justru merasa seolah gagah dihadapan anak perempuan jika merokok. Demikian juga para isteri terhadap suami. Kalau kekuatan emak-emak ini bersatu memerangi rokok, dipastikan dunia akan bebas dari asap rokok. Tentu hal ini mengecualikan jenis perempuan perokok, yang sebetulnya dalam kehidupan sosial kita juga masih dipandang kurang baik.

Jika itu masih tidak mungkin, maka ketiga, pemerintah dapat membuat aturan yang membolehkan siapa saja yang terganggu oleh paparan asap rokok untuk menuntut si perokok secara hukum. Dan pemerintah harus menyiapkan kolom aduan yang seperti itu secara resmi. Sederhana bukan, ayolah kita berbenah, bangsa beradap akan cukup dengan solusi pertama atau kedua, namun bangsa biadap, solusi ketigapun bukanlah solusi. Sungguh hal ini harus dimulai dari orang-orang yang memiliki otorita, orang penting, pemimpin, pendidik, dan publik figur. Saatnya bangsa dan negara kita menjadi sehat tanpa rokok.

Tulisan ini hanya bermaksud untuk menggugah kesadaran para insan perokok agar berkenan menjaga polutan yang keluar dari hidung dan mulutnya dengan dalih sebuah kenikmatan, namun orang sekitar menjadi teracuni olehnya. Jika budaya merokok terlanjur jadi pilihan maka kesantunan dalam merokok dengan memperhatikan orang lain disekitar adalah sebuah keharusan. Semoga…

Penulis adalah Ketua MPW Pemuda ICMI Aceh.

Penulis

Redaktur

Kontributor Media Civitas.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komentar akan tampil setelah disetujui moderator.