Oleh: Fera Annisa, S.Pd., M.Pd
Kurangnya jam sains di sekolah dapat berdampak signifikan pada terserapnya alumni sarjana pendidikan, terutama yang memiliki latar belakang dalam bidang sains seperti fisika, kimia, biologi, atau pendidikan sains secara umum. Jika jam pelajaran sains di sekolah dikurangi, kebutuhan akan guru sains tentu ikut menurun. Ini berarti kesempatan kerja berkurang, sekolah mungkin membutuhkan lebih sedikit guru sains untuk mengajar jumlah jam yang lebih sedikit. Dengan demikian, lulusan sarjana pendidikan sains mengalami kesulitan dalam menemukan posisi mengajar. Kurangnya jam sains juga dapat menyebabkan penurunan jumlah guru tetap yang dipekerjakan di bidang ini, karena kebutuhan dapat dipenuhi oleh lebih sedikit staf pengajar, hal ini mengakibatkan pengurangan jumlah lowongan perkerjaan
Disamping itu, kurangnya jam sains di sekolah juga dapat menyebabkan pemahaman siswa tentang ilmu pengetahuan menjadi dangkal. Ini juga berdampak pada lulusan sarjana pendidikan, jika siswa memiliki pemahaman yang kurang baik dalam sains karena kurangnya waktu yang diberikan untuk mata pelajaran tersebut, mungkin ada permintaan lebih rendah untuk program remedial atau tambahan pelajaran sains di luar jam sekolah. Ini mengurangi peluang bagi guru sains untuk memberikan les tambahan atau bimbingan belajar. Motivasi siswa menurun: Siswa mungkin kurang tertarik untuk mendalami bidang sains, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi jumlah siswa yang memilih jurusan sains di perguruan tinggi. Penurunan minat ini bisa mengurangi kebutuhan tenaga pendidik di masa depan, karena siswa tidak lagi tertarik pada subjek tersebut. Inilah masalah yang terjadi sekarang di perguruan tinggi, siswa kurang berminat memilih jurusan sains.
Dengan terbatasnya jam pelajaran sains dan lebih sedikit lowongan kerja untuk guru sains, lulusan sarjana pendidikan sains menghadapi persaingan yang lebih ketat antar lulusan, persaingan lebih tinggi: Dalam situasi di mana jumlah guru yang dibutuhkan menurun, kompetisi untuk posisi yang tersedia menjadi lebih ketat. Hal ini membuat lulusan baru harus bersaing dengan guru yang sudah berpengalaman atau yang memiliki kualifikasi tambahan. Kebutuhan akan keterampilan tambahan: Alumni sarjana pendidikan sains mungkin perlu memperluas keterampilan mereka dengan mengambil sertifikasi tambahan atau mendalami bidang lain agar lebih kompetitif di pasar kerja.
Akibat berkurangnya penyerapan lulusan sarjana pendidikan sains, mereka mungkin perlu mempertimbangkan jalur karier lain. Beberapa pengaruh yang mungkin terjadi adalah: Alih profesi: Lulusan yang tidak bisa bekerja di bidang pendidikan sains mungkin beralih ke profesi lain yang membutuhkan keterampilan analitis dan pengetahuan ilmiah, seperti bidang teknologi, penelitian, atau bahkan pengembangan kurikulum. Pendidikan informal: Beberapa lulusan mungkin beralih ke sektor pendidikan informal, seperti bimbingan belajar, kursus online, atau lembaga pendidikan swasta.
Jika tren pengurangan jam sains terus berlangsung, dalam jangka panjang, ini bisa mengakibatkan kekurangan tenaga pendidik yang berkualitas dalam bidang sains. Beberapa dampaknya adalah: Penurunan kualitas lulusan sains: Dengan berkurangnya kualitas pembelajaran sains di sekolah, lulusan sekolah menengah mungkin kurang siap untuk memasuki program sains di perguruan tinggi. Hal ini dapat memperkecil jumlah siswa yang tertarik untuk menjadi guru sains di masa depan. Kurangnya inovasi di bidang pendidikan sains: Kurangnya fokus pada sains di sekolah bisa mempengaruhi perkembangan metode pengajaran dan inovasi pendidikan dalam bidang tersebut. Ini dapat menghambat upaya untuk meningkatkan keterlibatan siswa dan kualitas pendidikan sains secara keseluruhan.
Efek Jangka Panjang pada Pendidikan STEM. Sains adalah bagian penting dari STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Jika jam pelajaran sains berkurang, efek jangka panjangnya bisa terlihat pada penurunan minat dan kemampuan siswa dalam STEM, yang berimbas pada Penurunan daya saing bangsa: Mengurangi jam sains dapat mempengaruhi kualitas pendidikan di bidang teknologi dan sains, sehingga negara mungkin tertinggal dalam persaingan global di sektor-sektor inovatif seperti teknologi dan penelitian ilmiah. Krisis tenaga kerja di bidang STEM: Di masa depan, bisa terjadi kekurangan tenaga kerja yang berkualitas di bidang STEM, yang saat ini sangat dibutuhkan dalam perkembangan ekonomi berbasis tKurangnya jam sains di sekolah memiliki dampak langsung dan tidak langsung pada terserapnya alumni sarjana pendidikan, terutama mereka yang berfokus pada pendidikan sains. Dampaknya tidak hanya mempengaruhi ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga menurunkan kualitas pendidikan sains, baik di tingkat sekolah menengah maupun tinggi. Untuk mengatasi masalah ini, penting bagi pemerintah dan institusi pendidikan untuk mempertimbangkan kembali alokasi jam pelajaran sains, mengingat pentingnya ilmu pengetahuan dalam membangun masa depan generasi yang siap menghadapi tantangan.
Penulis adalah Dosen Pendidikan Fisika FTK UIN Ar-Raniry, Pengurus MPW Pemuda ICMI Aceh. E-mail: fera.annisa@ar-raniry.ac.id

