PIDIE JAYA – 13 September 2026. Pandan laut yang selama ini identik sebagai bahan baku kerajinan tikar di Desa Buangan, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, kini mulai dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomis. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat berbasis Produk Teknologi Tepat Guna (PKMBP-TTG) yang diketuai oleh Irwan, S.Si., M.Si., dosen Program Studi Teknologi Industri Hasil Perikanan, Fakultas Kelautan dan Perikanan USK serta melibatkan anggota kegiatan apt. Muhammad Amin Nasution, S.Farm., M.Farm, dosen Program Studi Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam USK serta mahasiswa Dora Nurul Rizki, Rahmayanti, Mawaddah warahmah memperkenalkan inovasi teknologi pembuatan sabun cair dan deterjen berbasis pandan laut sebagai bagian dari upaya memperkuat blue economy sekaligus mendorong pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana
Program ini berangkat dari potensi pandan laut yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat Desa Buangan. Selama ini, pandan laut terutama dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tikar dan kerajinan tradisional. Namun, pemanfaatannya masih relatif terbatas sehingga nilai tambah ekonomi yang diperoleh masyarakat belum optimal. Situasi tersebut semakin menantang setelah bencana banjir berdampak terhadap bahan baku produksi serta aktivitas ekonomi masyarakat.
Ketua Tim Pengabdian, Irwan, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memperluas cara pandang masyarakat terhadap potensi sumber daya pesisir. Pandan laut tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk produk kerajinan, tetapi juga berpeluang dikembangkan menjadi berbagai produk rumah tangga bernilai jual. “Pandan laut selama ini telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat Desa Buangan. Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan inovasi yang dapat memperluas pemanfaatannya sehingga masyarakat memiliki alternatif produk dan sumber pendapatan baru,” ujar Irwan. Menurutnya, penguatan ekonomi masyarakat pascabencana tidak cukup hanya dengan mengembalikan aktivitas ekonomi seperti sebelumnya. Masyarakat juga perlu dibekali keterampilan baru agar lebih adaptif dan mampu mengembangkan sumber daya lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat memperoleh transfer pengetahuan mengenai tahapan pembuatan sabun cair dan deterjen, mulai dari pengenalan bahan, formulasi, proses pencampuran, teknik produksi hingga pengemasan produk. Pendampingan juga diarahkan agar masyarakat memahami pentingnya kualitas dan konsistensi produk apabila nantinya dikembangkan sebagai usaha kelompok. Keterlibatan Muhammad Amin Nasution dari bidang farmasi turut memperkuat aspek formulasi serta penggunaan bahan dalam proses pembuatan produk. Kolaborasi lintas bidang ini menjadi penting agar inovasi yang diperkenalkan tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga didukung oleh pemahaman teknis yang memadai.
Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari Kelompok Pengrajin Tikar Pandan Laut Desa Buangan yang diketuai oleh Hasnah. Bagi para pengrajin, inovasi ini memberikan wawasan baru bahwa pandan laut yang selama ini dimanfaatkan untuk kerajinan ternyata memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk lain. “Selama ini kami lebih banyak memanfaatkan pandan laut untuk membuat anyaman tikar. Kegiatan ini memberikan pengetahuan baru kepada kami bahwa pandan laut juga dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih beragam. Kami berharap keterampilan ini dapat terus dipraktikkan dan nantinya memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat,” ungkap Hasnah. Tidak hanya berfokus pada penguasaan teknologi, program ini juga diarahkan untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan. Sabun cair dan deterjen yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti sebagai produk pelatihan, tetapi dapat dikembangkan secara bertahap menjadi produk usaha kelompok.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep blue economy, yaitu pemanfaatan sumber daya pesisir secara produktif dan berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui diversifikasi produk, masyarakat diharapkan tidak hanya bergantung pada satu jenis usaha, tetapi memiliki pilihan ekonomi yang lebih luas. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, kegiatan ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana dapat dimulai dari potensi yang paling dekat dengan kehidupan warga. Dari pandan laut yang selama ini dianyam menjadi tikar, masyarakat Desa Buangan kini mulai merajut peluang ekonomi baru melalui inovasi, pengetahuan dan keterampilan.

