Friday, 09 October 2026
Cuaca Jakarta Memuat cuaca...
Uncategorized October 7, 2026 Redaktur 3 menit baca

USK Gelar ICAGRI ke-8, Perkuat Kolaborasi Pertanian dan Ekosistem Hutan untuk Ketahanan Iklim

BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Fakultas Pertanian menggelar The 8th International Conference on Agriculture and Bioindustry (ICAGRI) 2026 di Banda Aceh, Rabu–Kamis, 7–8 Oktober 2026. Konferensi internasional ini mengangkat tema “Bridging Agriculture and Forest Ecosystem through Sustainable Land Management for Climate Resilience.”

ICAGRI 2026 mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, pembuat kebijakan, serta mahasiswa dari Indonesia dan berbagai negara. Berlangsung secara hybrid, konferensi ini menjadi ruang untuk bertukar gagasan, mempresentasikan hasil penelitian, sekaligus membangun kolaborasi dalam menghadapi tantangan pertanian dan lingkungan yang semakin kompleks.

Tema yang diangkat menempatkan pengelolaan lahan berkelanjutan sebagai bagian penting dalam membangun ketahanan terhadap perubahan iklim. Pertanian dan ekosistem hutan memiliki hubungan yang erat. Cara manusia mengelola lahan tidak hanya berpengaruh terhadap produksi pangan, tetapi juga terhadap kesehatan tanah, keanekaragaman hayati, mata pencaharian masyarakat, dan kemampuan lingkungan beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Dekan Fakultas Pertanian USK, Prof. Dr. Sabardudin, M.Agr.Sc., dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema ICAGRI 2026 merefleksikan tantangan mendesak yang dihadapi sektor pertanian dan lingkungan. Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan lintas sektor, dengan solusi yang berpijak pada kekuatan riset serta pengetahuan lokal.

“Pertanian dan hutan memiliki keterkaitan yang erat. Bagaimana kita mengelola lahan memengaruhi ketahanan pangan, mata pencaharian, keanekaragaman hayati, serta kemampuan kita beradaptasi terhadap perubahan iklim,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan pembukaan ICAGRI 2026.

Konferensi ini menghadirkan sejumlah pembicara utama dari Indonesia dan mancanegara. Mereka terdiri atas Catur Endah Prasetiani P., S.Si., M.T., Direktur Jenderal Perhutanan Sosial, Kementerian Kehutanan; Prof. Dr. Hermann Behling dari Department Palynology and Climate Dynamics, Georg-August-University Göttingen; Associate Professor Dr. Nik Fadzly Bin N Rosely dari School of Biological Sciences, Universiti Sains Malaysia; Assistant Professor Yuta Hara, Ph.D. dari International Research Institute of Disaster Science, Tohoku University dan Collaborative Researcher, Research Institute for Humanity and Nature; serta Dr. Mohamad Shaharudin bin Samsurijan dari School of Social Sciences, Universiti Sains Malaysia.

Beragam isu strategis menjadi bagian dari pembahasan ICAGRI 2026, mulai dari agroteknologi dan produksi tanaman berkelanjutan, kesehatan tanah dan sekuestrasi karbon, pengendalian hama dan penyakit terpadu, hingga agribisnis dan rantai nilai berkelanjutan. Forum ini juga mencakup pertanian digital dan presisi, inovasi pascapanen untuk mengurangi kehilangan pangan, pengelolaan hutan berkelanjutan, agroforestri, serta kesehatan hewan melalui pendekatan One Health.

Lebih dari sekadar forum ilmiah, ICAGRI 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Pertukaran hasil penelitian dan pengalaman diharapkan memperkuat lahirnya pendekatan dan inovasi yang relevan bagi pembangunan pertanian berkelanjutan, sekaligus membuka peluang kerja sama baru di tingkat nasional maupun internasional.

Dekan Fakultas Pertanian USK juga menyampaikan apresiasi kepada para pembicara, peserta, mitra, dan panitia yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan konferensi. Ia mengajak mahasiswa dan peneliti muda untuk terlibat aktif dalam setiap diskusi serta memanfaatkan pertemuan ilmiah ini sebagai kesempatan untuk belajar, berbagi gagasan, dan membangun jejaring.

Penyelenggaraan ICAGRI ke-8 di Banda Aceh sekaligus memperkuat posisi USK sebagai bagian dari jejaring akademik internasional di bidang pertanian dan bioindustri. Pertemuan para ilmuwan dan praktisi dari berbagai latar belakang ini menunjukkan bahwa menghadapi perubahan iklim tidak dapat dilakukan oleh satu bidang ilmu saja.

Melalui ICAGRI 2026, Fakultas Pertanian USK mendorong semakin kuatnya kolaborasi antara pertanian, kehutanan, ilmu lingkungan, teknologi, sosial, dan berbagai bidang terkait. Dari Banda Aceh, gagasan tentang pengelolaan lahan yang berkelanjutan dan ketahanan iklim kembali dipertemukan dengan riset, inovasi, serta pengalaman dari berbagai belahan dunia.

ICAGRI 2026 berlangsung pada 7–8 Oktober 2026 di Banda Aceh dengan format hybrid. Konferensi ini menjadi bagian dari upaya USK dan Fakultas Pertanian untuk memperluas kolaborasi ilmiah sekaligus mendorong kontribusi nyata perguruan tinggi dalam membangun masa depan pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Penulis

Redaktur

Kontributor Media Civitas.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komentar akan tampil setelah disetujui moderator.