Wednesday, 26 August 2026
Cuaca Jakarta Memuat cuaca...
Berita August 26, 2026 Redaktur 7 menit baca

Tak Lagi Terbuang, Air Kelapa Tua Disulap Menjadi Kecap Dan Gula Cair: Riset Tim Pengabdian USK Kini Dipraktekkan Warga Batee Shoek Sabang

SABANG – Siapa menyangka air kelapa tua dapat diolah menjadi kecap kelapa dan gula cair kelapa? Inovasi pangan yang dikembangkan melalui hasil penelitian tim pengabdian Universitas Syiah Kuala (USK) kini tidak lagi berhenti pada tahap riset. Teknologi dan proses pembuatannya mulai dibawa langsung ke tengah masyarakat untuk dipraktikkan dan dikembangkan sebagai peluang usaha baru.

Melalui KKN Tematik Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Produk Teknologi Tepat Guna (PKMBP-TTG) Tahun 2026, tim pengabdian USK melakukan penerapan hasil penelitian kepada mitra dan masyarakat di Gampong Batee Shok, Kecamatan Sukamakmue, Kota Sabang.

Dua produk yang diperkenalkan adalah Kecap Kelapa dan Gula Cair Kelapa. Keduanya merupakan hasil pengembangan dan penelitian tim pengabdian yang selanjutnya diuji penerapannya di lapangan melalui pelatihan dan praktik bersama masyarakat.

Kegiatan menggandeng Rita Trisanti sebagai mitra utama bersama tim masyarakat Gampong Batee Shok. Rita dikenal aktif dalam pengembangan usaha VCO dan turunan berbasis kelapa lainnya di kawasan tersebut.

Tidak sekadar membawa produk jadi, tim USK memperkenalkan pengetahuan, formulasi, proses pengolahan, hingga praktik pembuatannya, sehingga masyarakat mengetahui bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan secara mandiri.

Bukan Sekadar Membawa Produk, USK Membawa Hasil Riset ke Masyarakat
Ketua tim pengabdian, Dr. Raida Agustina, S.TP., M.Sc., yang merupakan Dosen dari Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian USK menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang agar hasil penelitian tidak berhenti dalam bentuk pengetahuan akademik, laporan, atau prototipe.

Menurutnya, penelitian akan memiliki dampak yang lebih besar apabila teknologi yang dihasilkan dapat diterapkan oleh masyarakat.
“Kami ingin hasil penelitian tidak hanya berhenti di kampus. Teknologi yang sudah dikaji harus bisa dibawa kepada masyarakat, dipraktikkan bersama, disederhanakan prosesnya, dan pada akhirnya dapat dikuasai oleh masyarakat sendiri,” ujar Raida.

Ia mengatakan, pengembangan kecap kelapa dan gula cair kelapa membuka kemungkinan diversifikasi produk berbasis kelapa yang selama ini belum banyak dikenal masyarakat.
Dengan teknologi tepat guna, bahan yang tersedia di lingkungan masyarakat dapat memperoleh nilai tambah melalui pengolahan yang lebih inovatif.

Dinaroe, S.E., MBA., Ak., CA., ASEAN CPA, yang merupakan Dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK dan juga menjadi anggota tim pengabdian, menilai keberhasilan inovasi tidak cukup hanya diukur dari kemampuan menghasilkan produk.

Produk tersebut harus memiliki peluang untuk diproduksi secara berkelanjutan dan pada akhirnya memberikan manfaat ekonomi.
“Tantangannya bukan hanya bagaimana masyarakat bisa membuat kecap atau gula cair kelapa. Tahap berikutnya adalah bagaimana produk itu memiliki kualitas yang konsisten, dapat dihitung biaya produksinya, dikemas secara menarik, diberi harga secara tepat, dan akhirnya memiliki pasar. Di situlah hasil penelitian mulai berubah menjadi nilai ekonomi,” kata Dinaroe.

Menurutnya, pendampingan selanjutnya perlu menghubungkan teknologi produksi dengan aspek bisnis, mulai dari perhitungan harga pokok, penentuan harga jual, pengemasan, legalitas produk, penguatan merek hingga pemasaran.

Ternyata Kelapa Masih Bisa Dikembangkan Lebih Jauh
Bagi Rita Trisanti, kegiatan ini membuka perspektif baru mengenai luasnya kemungkinan pengembangan produk berbasis kelapa. Sebagai mitra yang selama ini telah berkecimpung dalam pengolahan kelapa, Rita menilai kehadiran hasil penelitian dari perguruan tinggi memberikan pengetahuan baru yang dapat dipelajari dan dikembangkan bersama masyarakat.
“Selama ini kami sudah mengenal pengolahan kelapa, tetapi melalui kegiatan ini kami belajar bahwa masih banyak produk lain yang bisa dikembangkan. Kami tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi ikut belajar bagaimana proses kecap kelapa dan gula cair kelapa itu dibuat,” ungkap Rita.

Menurutnya, model pelatihan berbasis praktik lebih mudah diterima karena masyarakat dapat melihat, mencoba, dan memahami proses pengolahan secara langsung.
“Harapan kami tentu ilmu yang diberikan tidak berhenti pada kegiatan ini. Kalau prosesnya sudah bisa kami kuasai dan kualitas produknya terus diperbaiki, ini bisa menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat,” tambahnya.

Mahasiswa Ikut Menjembatani Riset dan Masyarakat
Kegiatan tersebut juga melibatkan tiga mahasiswa KKN dari Program Studi Teknik Pertanian, yaitu Fras Tafis, Zawil Qiram, dan Arif Ramadhan. Ketiganya ikut mendukung proses penerapan teknologi dan pendampingan masyarakat di lapangan.

Keterlibatan mahasiswa membuat KKN Tematik tidak sekadar menjadi aktivitas pengabdian rutin. Mahasiswa berhadapan langsung dengan proses membawa sebuah hasil penelitian dari lingkungan akademik menuju kondisi nyata di masyarakat.

Mereka belajar bahwa suatu teknologi yang berhasil di lingkungan penelitian belum tentu dapat langsung diterapkan. Teknologi harus dapat dijelaskan dengan bahasa sederhana, disesuaikan dengan kondisi masyarakat, mudah dipraktikkan, serta memiliki kemungkinan untuk dilanjutkan setelah program selesai.

Selain Raida Agustina dan Dinaroe, program PKMBP-TTG ini melibatkan Khairul Anwar, S.TP., M.T.; Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc.; dan Prof. Dr. Ing. Ir. Agus Arip Munawar, S.TP., M.Sc., IPU.

Kolaborasi keilmuan tersebut menjadi kekuatan program karena pengembangan produk masyarakat membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berbicara mengenai teknologi pengolahan, tetapi juga keberlanjutan usaha dan nilai ekonominya.

Keuchik Batee Shok: “Jangan Sampai Program Berhenti Setelah Tim Pulang”
Kegiatan tersebut mendapat dukungan Keuchik Gampong Batee Shok, Ridwan Nasution. Ridwan menilai keberadaan perguruan tinggi di asyar asyarakat akan memberikan dampak lebih besar apabila program yang diperkenalkan dapat dilanjutkan oleh warga.
“Kami menyambut baik kegiatan seperti ini karena asyarakat memperoleh ilmu dan pengalaman baru. Yang paling penting bagi kami adalah setelah tim dari kampus selesai melaksanakan kegiatan, pengetahuan yang diberikan tetap tinggal dan bisa terus dipraktikkan oleh asyarakat,” kata Ridwan.

Ia berharap masyarakat Batee Shok dapat memanfaatkan pendampingan tersebut untuk memperluas ragam produk yang dapat dihasilkan dari potensi kelapa di gampong.
Menurutnya, kolaborasi dengan perguruan tinggi juga penting untuk mempertemukan potensi yang dimiliki masyarakat dengan teknologi serta pengetahuan yang terus berkembang.

Camat Sukamakmue: “Potensi Lokal Harus Naik Kelas”
Dukungan juga disampaikan Camat Sukamakmue, Sjafrizal, S.E. Menurutnya, kegiatan yang menghubungkan penelitian perguruan tinggi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat patut diperkuat karena memberikan kesempatan bagi potensi lokal untuk berkembang menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
“Sukamakmue memiliki banyak potensi. Yang kita butuhkan adalah bagaimana potensi tersebut tidak hanya tersedia sebagai bahan baku, tetapi bisa diolah, diberi nilai tambah, dikemas dengan baik dan memiliki pasar. Kehadiran perguruan tinggi sangat penting untuk membantu Masyarakat menuju ke arah itu,” ujar Sjafrizal.

Ia berharap kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah gampong, kecamatan, dan masyarakat dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Kalau teknologi dari kampus dapat dikuasai masyarakat dan kemudian berkembang menjadi kegiatan usaha, maka manfaatnya akan jauh lebih besar. Tidak hanya menghasilkan produk baru, tetapi juga bisa membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” tambahnya.

Kecap Kelapa, Produk yang Bikin Penasaran
Di antara dua hasil penelitian yang diperkenalkan, Kecap Kelapa menjadi salah satu produk yang menarik perhatian. Jika kecap selama ini lebih akrab diasosiasikan masyarakat dengan kedelai, tim pengabdian USK menunjukkan bahwa kelapa juga dapat menjadi basis pengembangan produk kecap melalui formulasi dan proses pengolahan tertentu.

Sementara Gula Cair Kelapa menawarkan alternatif produk pemanis berbasis kelapa yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Kedua produk tersebut menunjukkan bahwa inovasi dapat muncul ketika bahan yang selama ini dianggap biasa dipandang kembali melalui perspektif ilmu pengetahuan dan teknologi.

Produk-produk ini merupakan hasil penelitian dan pengembangan tim pengabdian USK yang digunakan sebagai model dan bahan praktik dalam proses transfer teknologi kepada mitra dan Masyarakat. Penegasan ini penting karena tujuan utama program adalah mentransfer pengetahuan dan kemampuan memproduksi, sehingga pada tahap berikutnya masyarakat mempunyai kapasitas untuk mengembangkan produknya sendiri.

Targetnya Bukan Selesai di Pelatihan
Tim pengabdian tidak ingin keberhasilan kegiatan hanya diukur dari terlaksananya pelatihan atau jumlah botol produk yang berhasil dibuat. Tahapan yang lebih penting justru dimulai setelah masyarakat memahami teknologi tersebut.

Produk perlu terus diuji dan disempurnakan dari sisi formulasi, konsistensi mutu, proses produksi, kemasan dan umur simpan. Pada saat yang sama, aspek ekonomi juga harus dipersiapkan melalui penghitungan biaya produksi, penetapan harga, legalitas, strategi merek, dan pemasaran.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengubah pola pengabdian dari sekadar “datang–melatih–selesai” menjadi proses yang lebih panjang: meneliti, menerapkan, mentransfer teknologi, mendampingi, dan menumbuhkan kemandirian masyarakat.

Dari Laboratorium, Turun ke Batee Shok
Kegiatan di Batee Shok memperlihatkan perjalanan sebuah penelitian dari dunia akademik menuju masyarakat. Apa yang sebelumnya diuji dan dikembangkan oleh tim peneliti kini diperkenalkan langsung kepada masyarakat, dipraktikkan bersama, dan mulai diuji peluang penerapannya pada skala masyarakat.

Di titik inilah pengabdian kepada masyarakat memperoleh makna yang lebih konkret.
Bukan hanya menghadirkan seminar.
Bukan hanya memperlihatkan produk.
Tetapi membawa pengetahuan dari kampus, menyerahkan keterampilannya kepada masyarakat, dan membuka kemungkinan lahirnya aktivitas ekonomi baru.

Dari sebuah bahan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Sabang, kini muncul dua kemungkinan baru: kecap kelapa dan gula cair kelapa.

Dan dari Batee Shok, hasil penelitian itu mulai menjalani ujian yang sesungguhnya: bisakah ilmu dari kampus tumbuh menjadi keterampilan, lalu keterampilan berkembang menjadi usaha yang menambah penghasilan masyarakat? <DNR&RDA>

Penulis

Redaktur

Kontributor Media Civitas.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komentar akan tampil setelah disetujui moderator.