Thursday, 10 September 2026
Cuaca Jakarta Memuat cuaca...
Berita September 10, 2026 Redaktur 4 menit baca

Tim PKMI USK Survei Potensi Ikan di TPI Lampulo untuk Pengembangan Abon dan Keumamah

BANDA ACEH – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) Universitas Syiah Kuala melakukan survei potensi dan ketersediaan bahan baku ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lampulo, Banda Aceh, sebagai bagian dari tahapan awal pelaksanaan program bertajuk “Implementasi Teknologi Pengolahan dan Standarisasi Mutu Abon dan Keumamah Melalui Kolaborasi Perguruan Tinggi.”

Kegiatan ini merupakan program kolaborasi Universitas Syiah Kuala (USK) sebagai host, bersama Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, dan Universitas Abulyatama, Aceh. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat penerapan teknologi pengolahan hasil perikanan sekaligus meningkatkan mutu dan daya saing produk olahan ikan yang berkembang di masyarakat.

Survei di TPI Lampulo dilakukan untuk memperoleh gambaran awal mengenai potensi bahan baku ikan yang tersedia, jenis ikan yang dominan, karakteristik hasil tangkapan, serta peluang pemanfaatannya sebagai bahan baku produk olahan bernilai tambah, khususnya abon dan keumamah.

Tim survei dari Universitas Syiah Kuala terdiri atas Dr. Mustaqimah, S.TP., M.Sc., Dr. Raida Agustina, S.TP., M.Sc., Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc., dan Dr. Diswandi Nurba, S.TP., M.Si.

Dalam kegiatan tersebut, tim melakukan pengamatan terhadap aktivitas perdagangan ikan, ketersediaan bahan baku, serta karakteristik ikan yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut melalui teknologi pengolahan. Informasi yang diperoleh dari lapangan menjadi salah satu dasar dalam menentukan strategi pengolahan dan pemanfaatan bahan baku pada tahapan kegiatan berikutnya.

Ketua PMKI USK, Dr. Mustaqimah, S.TP., M.Sc menjelaskan bahwa survei bahan baku merupakan langkah penting sebelum teknologi pengolahan diterapkan kepada masyarakat. Menurutnya, inovasi produk pangan tidak cukup hanya berorientasi pada teknologi proses, tetapi harus dimulai dari pemahaman terhadap ketersediaan dan karakteristik bahan baku di tingkat lokal.

“Potensi ikan di Aceh sangat besar, tetapi tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah, mutu yang konsisten, aman dikonsumsi, dan memiliki daya saing pasar. Karena itu, survei bahan baku menjadi bagian penting untuk memastikan teknologi yang diterapkan benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan,” ujarnya.

Program PMKI ini tidak hanya diarahkan pada pengembangan produk, tetapi juga pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghasilkan produk olahan ikan yang memenuhi prinsip-prinsip mutu dan standardisasi. Abon dan keumamah dipilih karena keduanya memiliki keterkaitan kuat dengan potensi perikanan dan budaya pangan masyarakat Aceh.

Keumamah, yang secara tradisional dikenal sebagai salah satu produk olahan ikan khas Aceh, memiliki keunggulan dari sisi daya simpan dan nilai budaya. Sementara itu, abon ikan memiliki peluang pengembangan yang lebih luas karena dapat dikemas sebagai produk pangan praktis dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Melalui pendekatan teknologi, proses pengolahan kedua produk tersebut diharapkan tidak berhenti pada aspek produksi semata, tetapi juga mencakup pengendalian mutu, keamanan pangan, standardisasi proses, pengemasan, serta pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Kolaborasi lintas perguruan tinggi menjadi salah satu kekuatan utama program ini. Universitas Syiah Kuala sebagai host berkolaborasi dengan Universitas Hasanuddin dan Universitas Abulyatama untuk mengintegrasikan kepakaran dan sumber daya yang dimiliki masing-masing institusi.

Kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan model pengabdian yang tidak sekadar memberikan pelatihan sesaat, tetapi mampu membangun proses pendampingan yang berkelanjutan. Perguruan tinggi berperan dalam membawa hasil riset, teknologi, metode pengendalian mutu, serta pendekatan manajemen usaha agar dapat diterapkan secara lebih sederhana dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Survei di TPI Lampulo sekaligus memperlihatkan pentingnya membangun keterhubungan antara sektor perikanan, teknologi pengolahan, perguruan tinggi, dan pelaku usaha. Ketersediaan bahan baku ikan yang memadai akan memiliki dampak ekonomi yang lebih besar apabila diikuti kemampuan mengolahnya menjadi produk dengan umur simpan lebih panjang dan nilai jual yang lebih tinggi.

Dengan demikian, kegiatan PMKI ini diharapkan dapat berkontribusi pada penguatan hilirisasi hasil perikanan di Aceh. Produk abon dan keumamah tidak hanya diposisikan sebagai pangan tradisional atau produk rumah tangga, tetapi diarahkan menjadi produk olahan yang memiliki standar mutu, identitas produk, serta peluang untuk dikembangkan ke pasar yang lebih luas.

Tahapan survei di TPI Lampulo menjadi fondasi awal untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berikutnya berbasis pada kondisi nyata di lapangan. Hasil survei selanjutnya akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan strategi teknologi pengolahan dan standardisasi mutu abon dan keumamah yang akan diterapkan dalam program kolaborasi perguruan tinggi tersebut.

Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat, program PMKI ini diharapkan mampu memperkuat pemanfaatan sumber daya perikanan lokal sekaligus mendorong lahirnya produk pangan olahan yang bernilai tambah, berdaya saing, dan berkelanjutan.[]

Penulis

Redaktur

Kontributor Media Civitas.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komentar akan tampil setelah disetujui moderator.