Bali – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh akademisi Universitas Andalas. Dr. Ir. Eka Candra Lina, S.P., M.Si., IPM, dosen Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Andalas, berhasil meraih penghargaan Best Presenter pada The International Conference on Engineering for Environment and Energy (ICOEE) 2026 yang berlangsung pada 30–31 Juli 2026 di Bintang Bali Resort, Kuta, Bali.
Konferensi internasional yang mengangkat tema “Engineering Solutions for Environmental Resilience in a Changing World” tersebut mempertemukan para akademisi, peneliti, praktisi industri, dan pengambil kebijakan dari berbagai negara untuk mendiskusikan inovasi teknologi yang mendukung ketahanan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Pada kesempatan tersebut, Dr. Eka Candra Lina mempresentasikan hasil penelitian berjudul “Geographical Variation in the Chemical Composition of Piper aduncum Essential Oil Determines Its Potential for Nanoemulsion-Based Botanical Insecticide Development”. Penelitian ini merupakan kolaborasi antara Universitas Andalas dan Universiti Sains Malaysia yang mengkaji pengaruh variasi geografis terhadap komposisi kimia minyak atsiri Piper aduncum serta potensinya sebagai bahan aktif nanoinsektisida botani.
Makalah tersebut dipresentasikan pada Sub-theme 3, yang berfokus pada pengembangan inovasi teknologi dan rekayasa untuk meningkatkan ketahanan lingkungan melalui pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. Penelitian ini dinilai memiliki relevansi tinggi karena menawarkan pendekatan alternatif dalam pengendalian hama dengan memanfaatkan bahan alam lokal yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pestisida sintetis.
Dalam penelitian tersebut, tim peneliti mengevaluasi nanoemulsi minyak atsiri buah Piper aduncum yang berasal dari lima wilayah di Sumatera Barat, yakni Bukit Lampu, Pantai Air Manis, Solok, Sitinjau Lauik, dan Pariaman. Seluruh formulasi nanoemulsi menunjukkan aktivitas insektisida yang efektif terhadap hama tanaman sayuran. Minyak atsiri dari Pariaman memiliki kandungan senyawa aktif tertinggi, yaitu 79,93%, sekaligus menghasilkan aktivitas biologis terbaik yang ditunjukkan oleh nilai LC₅₀ paling rendah. Sementara itu, sampel dari Solok memberikan rendemen minyak atsiri tertinggi. Analisis molekuler menggunakan teknik PCR juga mengonfirmasi bahwa tanaman yang berasal dari daerah pesisir maupun pegunungan tetap termasuk dalam spesies yang sama.
Menurut Dr. Eka Candra Lina, hasil penelitian ini semakin memperkuat potensi kekayaan biodiversitas Indonesia sebagai sumber bahan baku pestisida nabati yang bernilai tinggi.
“Indonesia memiliki sumber daya hayati yang sangat melimpah sebagai bahan aktif pestisida botani. Dengan penerapan teknologi nanoemulsi, efektivitas minyak atsiri dapat ditingkatkan sehingga berpotensi menjadi solusi pengendalian hama yang lebih aman bagi lingkungan, menjaga keseimbangan ekosistem, serta mendukung terwujudnya sistem pertanian berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pemanfaatan tanaman lokal sebagai bahan baku tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan terhadap pestisida sintetis, tetapi juga membuka peluang hilirisasi hasil penelitian menjadi produk inovatif yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat dan sektor industri pertanian.
Penelitian ini juga memberikan kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 (Zero Hunger) melalui pengembangan teknologi pertanian berkelanjutan, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) dengan mendorong penggunaan pestisida berbasis bahan alam, serta SDG 15 (Life on Land) melalui pengurangan dampak negatif pestisida sintetis terhadap keanekaragaman hayati dan lingkungan.
Selain aspek teknologi, penelitian ini juga mengusung konsep ekonomi sirkular (circular economy) melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya hayati lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Pengembangan nanoinsektisida berbasis tanaman lokal diharapkan mampu membentuk rantai nilai baru yang melibatkan petani, kelompok masyarakat, pelaku UMKM, hingga industri berbasis teknologi.
Keikutsertaan Universitas Andalas dalam ICOEE 2026 juga semakin memperkuat kerja sama internasional dengan Universiti Sains Malaysia. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempercepat pengembangan teknologi hijau di bidang perlindungan tanaman melalui riset multidisiplin yang memadukan ilmu pertanian, kimia bahan alam, biologi molekuler, dan nanoteknologi.
Prestasi sebagai Best Presenter pada forum ilmiah internasional ini menjadi bukti komitmen Universitas Andalas dalam menghasilkan riset berkualitas yang tidak hanya memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan di tingkat global, tetapi juga menghadirkan solusi inovatif untuk mendukung pertanian yang produktif, sehat, dan berkelanjutan.
Kegiatan penelitian ini didukung oleh The Indonesian Endowment Fund for Education (LPDP) atas nama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Program EQUITY (Contract No. 4304/B3/DT.03.08/2025).

