Monday, 21 September 2026
Cuaca Jakarta Memuat cuaca...
Berita September 21, 2026 Redaktur 5 menit baca

Optimalkan Potensi Hasil Laut, Posyantek dan BUMG Pasar Aceh Gandeng Teknik Pertanian USK

MEULABOH – Upaya mengoptimalkan potensi ekonomi gampong berbasis hasil laut terus dilakukan Pemerintah Gampong Pasar Aceh, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat. Melalui Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna (Posyantek) Merdeka dan Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) Pasar Baru, gampong tersebut menggelar pelatihan inovasi kuliner berbahan dasar hasil laut bersama akademisi dari Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

Kegiatan yang dipusatkan di Kantor Keuchik Gampong Pasar Aceh, Sabtu (20/9/2026) itu, fokus pada pelatihan dan pendampingan pembuatan abon ikan dengan cita rasa khas Aceh. Pelatihan ini diikuti puluhan ibu-ibu kelompok usaha, pemuda gampong, serta pengurus BUMG yang selama ini menggantungkan ekonomi dari sektor perikanan tangkap dan budidaya.

Ketua Posyantek Merdeka Gampong Pasar Aceh, Agustian Saputra, S.TP, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi kerja sama antara Posyantek Merdeka dengan Pusat Riset Mekanisasi dan Perbengkelan Pertanian (Pusmeptan) Fakultas LPPM USK.

Menurutnya, kerja sama ini tidak hanya sebatas pelatihan sesaat, tetapi merupakan komitmen jangka panjang untuk menghadirkan teknologi tepat guna (TTG) yang benar-benar bisa diterapkan dan meningkatkan nilai tambah produk masyarakat desa.

“Posyantek ini kan memang lembaga desa yang tugasnya menumbuhkembangkan teknologi tepat guna. Kami tahu persis potensi Gampong Pasar Aceh ada di sektor perikanan. Hasil laut melimpah, tapi selama ini dijual mentah dengan harga murah. Melalui BUMG, kami ingin mengubahnya menjadi produk olahan yang punya nilai jual tinggi dan tahan lama,” ujar Agustian.

Ia menjelaskan, selama ini nelayan di Pasar Aceh kerap dihadapkan pada persoalan fluktuasi harga ikan saat musim panen raya. Ketika hasil tangkapan melimpah, harga anjlok dan banyak ikan yang tidak terserap pasar hingga akhirnya membusuk. Kondisi inilah yang mendorong Posyantek untuk mencari solusi pengolahan pascapanen.

Abon ikan, kata Agus, dipilih karena memiliki beberapa keunggulan. Selain proses pembuatannya relatif mudah dengan bantuan alat TTG seperti mesin spinner peniris minyak, mesin pencabik, dan sealer, abon juga memiliki daya simpan yang lama, hingga 3-6 bulan, serta mudah dipasarkan. Dengan sentuhan bumbu khas Aceh seperti kari, asam sunti, dan rempah-rempah lokal, abon ikan ini diharapkan memiliki pembeda dari produk serupa di pasaran.

“Selama ini abon identik dengan daging sapi atau ayam. Padahal ikan kita proteinnya tinggi dan bahan bakunya ada di depan mata. Dengan teknologi yang kita hadirkan, ibu-ibu tidak perlu lagi memeras minyak secara manual yang lama dan tidak higienis. Semua sudah pakai mesin,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua BUMG Pasar Baru Gampong Pasar Aceh, Cut Ledi Elvira, mengungkapkan optimismenya terhadap pengembangan produk unggulan gampong tersebut. Di bawah kepemimpinan Keuchik Pasar Aceh, Rizwan Rahman, S.Pi, pihaknya memang tengah fokus mendorong kemandirian ekonomi gampong melalui unit usaha produktif.

Menurut Cut Ledi, BUMG Pasar Baru akan menjadi off-taker dan wadah pemasaran bagi produk abon ikan hasil kelompok masyarakat. Mulai dari penyediaan bahan baku, proses standarisasi rasa dan kemasan, hingga pemasaran akan dikelola secara profesional oleh BUMG.

“Kami tidak ingin pelatihan ini berhenti sampai di sini. Harapan kami, hasil produksi yang telah didukung alat teknologi tepat guna ini bisa masuk ke pasar yang lebih luas. Target terdekat kami adalah bisa masuk ke pasar lokal, terutama untuk mendukung program Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ada di Aceh Barat,” ungkap Cut Ledi.

Ia menilai, program MBG merupakan peluang pasar yang sangat besar bagi produk lokal gampong. Abon ikan sebagai sumber protein hewani yang praktis, bergizi, dan disukai anak-anak sangat relevan untuk menjadi bagian dari menu MBG. Jika ini terwujud, maka perputaran ekonomi akan terjadi di dalam gampong itu sendiri.

“Bayangkan, ikan dari nelayan kita, diolah oleh ibu-ibu kita, pakai alat dari Posyantek kita, dijual oleh BUMG kita, untuk anak-anak kita di sekolah. Ini ekonomi sirkular yang ingin kita bangun,” tegasnya.

Dari pihak akademisi, Tim Dosen Teknik Pertanian USK yang hadir sebagai narasumber menjelaskan secara teknis proses pembuatan abon ikan yang higienis dan memenuhi standar keamanan pangan. Tim yang dipimpin langsung oleh peneliti Pusmeptan itu juga membawa prototipe mesin TTG untuk didemonstrasikan langsung di hadapan peserta.

Mereka mengajarkan mulai dari pemilihan jenis ikan yang tepat seperti ikan tongkol, tuna, dan cakalang yang banyak didaratkan di PPI Johan Pahlawan, teknik pengukusan dan pencabikan agar tekstur abon tidak hancur, formulasi bumbu khas Aceh, hingga teknik penggorengan dengan suhu terkontrol dan penirisan minyak menggunakan spinner agar abon tidak tengik dan lebih awet.

Antusiasme peserta terlihat tinggi. Salah seorang peserta, Icut (45), mengaku baru pertama kali mengetahui bahwa ikan bisa diolah menjadi abon yang rasanya tidak amis.

“Selama ini ikan kalau tidak dijual segar, paling kami buat ikan asin. Kalau dibuat abon begini, anak-anak pasti suka. Tadi sudah kami coba, rasanya enak sekali, seperti abon sapi, apalagi ada rasa kari Acehnya,” kata Icut sambil menunjukkan kemasan abon hasil praktiknya.

Keuchik Gampong Pasar Aceh, Rizwan Rahman, S.Pi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin. Menurutnya, sinergi antara gampong, Posyantek, BUMG, dan perguruan tinggi adalah model pembangunan desa yang ideal. Gampong memiliki potensi, kampus memiliki teknologi dan keilmuan.

“Ini adalah contoh nyata bagaimana perguruan tinggi hadir di tengah gampong. Kami tidak ingin Pasar Aceh hanya dikenal sebagai gampong pesisir yang menjual ikan mentah. Kami ingin menjadi gampong produsen. Dengan adanya Posyantek dan BUMG yang aktif, kami yakin kemandirian ekonomi itu bisa dicapai,” ujar Keuchik Rizwan.

Ia berharap, ke depan akan lahir lebih banyak inovasi TTG lainnya yang bisa diterapkan di Gampong Pasar Aceh, tidak hanya di sektor perikanan, tetapi juga pengelolaan limbah perikanan menjadi pupuk organik, pakan ternak, dan produk turunan lainnya.

Tim Akademisi USK yang hadir dalam pelatihan tersebut terdiri dari Dr. Mustaqimah, S.TP., M.Sc, Dr. Muhammad Yasar, S TP., M.Sc, Dr. Raida Agustina, S.TP., M.Sc, Dr. Diswandi Nurba, S.TP., M.Si, dan Dr. Aris Munandar, S.TP., MP. Selain itu turut juga hadir akademisi dari Universitas Teuku Umar Meulaboh, Fachruddin, S.TP., M.Si, Dr. Sri Handayani., dan Dr. Rian.

Kegiatan pelatihan yang berlangsung sehari penuh itu diakhiri dengan penyerahan secara simbolis alat Teknologi Tepat Guna berupa mesin pembuat abon dari Pusmeptan USK kepada Posyantek Merdeka untuk dikelola bersama BUMG Pasar Baru. Alat tersebut nantinya akan ditempatkan di Rumah Produksi BUMG sebagai pusat pengolahan abon ikan Gampong Pasar Aceh.

Penulis

Redaktur

Kontributor Media Civitas.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komentar akan tampil setelah disetujui moderator.