Oleh: Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc
Aceh dan bencana seolah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Belum lagi hilang ingatan kolektif kita tentang dahsyatnya tsunami dua dekade silam, kini bumi Serambi Mekkah kembali diuji oleh fenomena iklim ekstrem yang kian nyata. Kehadiran Siklon Tropis Senyar akhir tahun lalu bukan sekadar deru angin kencang atau curah hujan tinggi yang menenggelamkan pemukiman, ia adalah alarm keras tentang kerentanan baru di daerah kita.
Di tengah sisa puing dan duka masyarakat, Universitas Syiah Kuala (USK) mengambil langkah progresif dengan menerjunkan 938 mahasiswanya melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Kebencanaan. Sebuah langkah yang lebih dari sekadar pemenuhan SKS, melainkan manifestasi nyata dari filosofi jantung hati rakyat Aceh.
Tema yang diusung pun tidak main-main, “Penguatan Resiliensi Psikososial melalui Partisipasi dan Kolaborasi.” Pilihan tema ini menunjukkan pergeseran paradigma yang cerdas dalam penanggulangan bencana. Jika selama ini bantuan pasca-bencana kerap didominasi oleh pengiriman mi instan dan pembangunan infrastruktur fisik, USK menyadari bahwa ada “infrastruktur” lain yang jauh lebih vital namun sering terlupakan yakni kesehatan mental dan ketangguhan sosial masyarakat.
Dampak siklon tropis, khususnya Senyar, menyisakan trauma yang berbeda dengan banjir musiman. Kecepatan angin yang menghancurkan atap rumah dalam sekejap menciptakan rasa tidak aman yang mendalam (sense of insecurity). Di sinilah KKN Tematik USK masuk ke celah yang paling krusial. Resiliensi psikososial bukan hanya soal mengobati trauma, tetapi tentang bagaimana komunitas mampu bangkit kembali, beradaptasi, dan bahkan tumbuh lebih kuat setelah dihantam krisis.
Kita harus jujur bahwa di banyak desa terdampak, masyarakat mengalami kelelahan mental (disaster fatigue). Mereka lelah harus memulai dari nol setiap kali bencana datang. Mahasiswa USK, dengan latar belakang ilmu yang beragam, hadir bukan sebagai “pahlawan” yang membawa solusi instan, melainkan sebagai pendamping yang membantu masyarakat menemukan kembali kekuatan internal mereka. Melalui pendekatan psikososial, mahasiswa berusaha merajut kembali kohesi sosial yang sempat terkoyak akibat kepanikan dan perebutan sumber daya bantuan yang terbatas.
Dalam konteks Aceh, kolaborasi tidak boleh hanya dimaknai sebagai koordinasi antar-instansi di atas kertas. Kolaborasi dalam KKN Tematik USK adalah pertautan antara kepakaran akademis dengan kearifan lokal (local wisdom). Kita melihat bagaimana mahasiswa lintas fakultas bekerja sama dengan tokoh agama (Teungku Imum) dan perangkat desa (Tuha Peuet).
Di Aceh, pendekatan psikososial akan hambar jika tercabut dari nilai spiritualitas. Mahasiswa USK memahami ini dengan baik. Mereka tidak hanya membawa teori-teori Barat tentang trauma healing, tetapi mengintegrasikannya dengan nilai-nilai religius dan budaya gotong royong atau meuseuraya. Misalnya, kegiatan pendampingan anak-anak dilakukan di masjid atau meunasah, menggabungkan permainan edukatif dengan penguatan akidah bahwa bencana adalah ujian yang menuntut kesabaran sekaligus ikhtiar maksimal.
Selain itu, kolaborasi ini melibatkan pendekatan multidisiplin. Kita melihat mahasiswa teknik sipil melakukan asesmen kerusakan bangunan sambil mahasiswa komunikasi memberikan edukasi mitigasi bencana. Mahasiswa pertanian mengupayakan reklamasi lahan, mahasiswa kedokteran menangani masalah kesehatan, dan seterusnya. Ini adalah orkestrasi pengabdian yang komprehensif. Bencana adalah masalah yang kompleks, maka solusinya pun tidak boleh tunggal.
Kritik terbesar terhadap program pengabdian masyarakat biasanya adalah keberlanjutan (sustainability). Seringkali, setelah mahasiswa ditarik kembali ke kampus, semangat masyarakat ikut surut. Namun, KKN Tematik Kebencanaan USK kali ini dirancang untuk meninggalkan “jejak” yang permanen. Penguatan resiliensi psikososial diarahkan pada pembentukan kader-kader tangguh bencana di tingkat desa.
Mahasiswa melatih pemuda gampong untuk mengenali tanda-tanda awal depresi pada warga pasca-bencana dan bagaimana melakukan pertolongan pertama psikologis (Psychological First Aid). Dengan demikian, USK sedang menanam benih kemandirian. Masyarakat diajarkan untuk tidak selalu menanti bantuan dari luar, tetapi mampu mengorganisir diri sendiri saat darurat terjadi. Inilah hakikat dari resiliensi, kemampuan untuk lentur, bukan patah, saat ditekan oleh beban bencana.
Tentu saja, jalan menuju resiliensi tidaklah mulus. Tantangan di lapangan sangat nyata. Ego sektoral kadang masih muncul, dan ada kalanya masyarakat merasa skeptis dengan kehadiran mahasiswa yang dianggap “hanya sekadar lewat”. Di sinilah integritas mahasiswa USK diuji. Mereka dituntut untuk memiliki empati yang tinggi, bukan sekadar datang dengan kuesioner di tangan.
Siklon Senyar telah membuka mata kita bahwa pola bencana di Aceh kian dinamis. Jika dulu kita terpaku pada gempa dan tsunami, kini ancaman hidrometeorologi seperti siklon tropis menjadi nyata akibat perubahan iklim global. Universitas sebagai institusi riset memiliki kewajiban moral untuk mentransformasikan data-data ilmiah menjadi aksi nyata di lapangan. KKN Tematik ini adalah jembatan laboratorium kampus dengan realitas sosiologis masyarakat Aceh.
Ke depan, model KKN Tematik Kebencanaan ini patut menjadi standar baku pengabdian masyarakat di perguruan tinggi lain, terutama di wilayah rawan bencana. Kesuksesan USK dalam menangani dampak pasca-Siklon Senyar melalui pendekatan psikososial harus didokumentasikan sebagai praktik baik (best practice) yang bisa direplikasi.
Kita berharap, melalui kehadiran mahasiswa USK di pelosok-pelosok desa terdampak, masyarakat Aceh tidak lagi memandang bencana sebagai akhir dari segalanya. Kita ingin melihat anak-anak di wilayah terdampak kembali ceria bermain tanpa rasa takut berlebih saat angin mulai berdesir kencang. Kita ingin melihat para petani dan nelayan memiliki mentalitas baja untuk bangkit kembali memperbaiki perahu dan sawah mereka.
Resiliensi adalah sebuah proses, bukan hasil akhir yang instan. Langkah USK dengan KKN Tematiknya adalah sebuah investasi jangka panjang bagi masa depan Aceh. Karena pada akhirnya, ketangguhan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari seberapa kuat beton-beton tanggul yang dibangunnya, tetapi dari seberapa tangguh jiwa rakyatnya dalam menghadapi badai. Siklon Senyar mungkin telah merobohkan rumah-rumah kita, namun ia tidak boleh merobohkan semangat dan martabat kita sebagai bangsa yang besar.
Melalui kolaborasi, melalui empati, dan melalui ilmu pengetahuan, Universitas Syiah Kuala telah menunjukkan bahwa pendidikan tinggi adalah tentang kemanusiaan. Dan bagi Aceh, itulah obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan luka pasca-bencana.
**Penulis adalah Koordinator Lokasi/Dosen Pembimbing Lapangan P3KKN USK, Ketua MPW Pemuda ICMI Aceh, E-mail: yasar@usk.ac.id
