Angkat ISPO Azanuddin Kurnia Raih Gelar Doktor

Redaktur Avatar
Posted on :

Azanuddin Kurnia mengangkat tema tentang ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil/Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia) pada disertasi dan sudah dipertahankan pada ujian sidang terbuka promosi doktor pada tanggal 14 Januari 2026. Beliau kuliah pada Sekolah Pascasarjana Program Studi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.


Azanuddin Kurnia dari berbagai literatur pada disertasinya menyatakan perkembangan luas areal kelapa sawit yang sangat massif selama ini, telah menjadikan Indonesia sebagai produsen minyak sawit utama di dunia. perkembangan tersebut juga menyebabkan banyak masalah lingkungan dan sosial. Isu lingkungan seperti : pencemaran air, erosi tanah, pencemaran udara, konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit, hilangnya keanekaragaman hayati, deforestasi, konversi rawa gambut, pembakaran dan kabut asap serta emisi gas rumah kaca. Masalah sosial meliputi konflik penggunaan lahan, kepemilikan dan penguasaan lahan, dan bagaimana hak dialihkan.


Menghadapi meningkatnya kritik internasional atas dampak sosial dan lingkungan dari produksi minyak sawit, pemerintah Indonesia menetapkan standar sertifikasi minyak sawit berkelanjutan Indonesia yang disebut ISPO yang dimulai pada Tahun 2011. Saat penelitian ini berlangsung aturan yang dipakai adalah Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia dan secara teknis pelaksanaan melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia. Tujuan utama sertifikasi adalah untuk memverifikasi secara independen bahwa produksi minyak sawit memiliki dampak lingkungan dan sosial yang merugikan adalah minimal.


Sertifikat ISPO di Indonesia sampai April 2024 untuk lahan kebun sawit dengan luas kumulatif 6,2 juta hektar (ha) atau sekitar 45% dari total lahan kebun sawit produktif di Indonesia. Sebagian besar lahan sawit yang bersertifikat ISPO adalah perkebunan besar swasta, seluas 5,8 juta ha. Sedangkan perkebunan besar negara baru 350 ribu ha, dan perkebunan rakyat petani swadaya hanya 15 ribu ha atau kurang dari 1%. Sertifikasi ISPO di Aceh mencapai 95.765,02 ha dengan 35 kelembagaan baik perusahaan maupun kelompok pekebun. Sekitar 92.575,48 ha sertifikasi oleh 29 perusahaan dan sekitar 3.189,54 ha oleh kelembagaan pekebun. Kemudian khusus untuk Kabupaten Aceh Tamiang luas areal perkebunan besar yang sudah disertifikasi seluas 18.196,20 ha dan perkebunan rakyat seluas 3.189,54 ha (13,64%) dari total luas perkebunan rakyat di Kabupaten Aceh Tamiang. Dengan persentase sekitar 13,64%.


Tingkat adopsi sertifikasi ISPO di tingkat petani masih rendah dan perlu mendapat perhatian khusus. Rendahnya persentase sertifikasi petani kecil disebabkan oleh berbagai hambatan persyaratan sertifikasi. Dari berbagai penelitian sebelumnya, ada lima jenis tantangan yang dihadapi petani kecil: 1) tantangan teknis dalam menerapkan praktik pertanian yang baik; 2) tantangan kelembagaan untuk mengakses pasar; 3) tantangan keuangan untuk mengadopsi teknologi tepat guna, guna memenuhi standar sertifikasi; 4) tantangan kepatuhan terhadap peraturan, seperti perolehan sertifikat tanah; dan 5) tantangan kapasitas lainnya seperti mencatat hasil dan penggunaan pestisida dan pupuk.


Kompleksnya persoalan yang dihadapi petani kecil dalam penerapan ISPO diperlukan analisis agar penerapan dan percepatan ISPO dapat terwujud. Melihat kesiapan penerapan ISPO, prilaku, dan tindakan beralasan petani, faktor-faktor yang mempengaruhinya penting untuk diketahui sehingga akan memberikan gambaran bagaimana strategi percepatan penerapan ISPO di Aceh.


Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis tingkat kesiapan penerapan sertifikasi ISPO pada perkebunan kelapa sawit rakyat dibandingkan dengan perkebunan tersertifikasi ISPO di Aceh. (2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesiapan penerapan ISPO pada perkebunan kelapa sawit rakyat di Aceh dan (3) Merumuskan strategi percepatan implementasi ISPO bagi perkebunan rakyat di Aceh.


Hasil penelitian I dengan menggunakan “gap analisis dan diagram radar” diantaranya menunjukkan ada Lima prinsip yang digunakan untuk mengukur tingkat kesiapan penerapan ISPO, yaitu kepatuhan terhadap peraturan dan perundangan (X1), praktik perkebunan yang baik (X2), pengelolaan lingkungan hidup, sumber daya alam, dan keanekaragaman hayati (X3), penerapan transparansi (X4), serta peningkatan usaha secara berkelanjutan (X5). Petani yang telah bersertifikat ISPO cenderung memiliki tingkat kesiapan yang lebih tinggi dibandingkan dengan petani PSR dan petani swadaya pada semua variabel yang diukur.


Rekomendasi yang ditawarkan pada penelitian I ini adalah untuk percepatan ISPO di Aceh bahkan Indonesia adalah dengan mengintegrasikan pengusulan PSR sekaligus memenuhi sebagian besar persyaratan dalam ISPO, seperti STDB, SPPL, dan pembentukan ICS (Internal control system) pada kelompoak tani. Kemudian Pemerintah sudah selayaknya memberikan insentif kepada para kelompok yang sudah mendapatkan sertifikasi ISPO, baik insentif finansial maupun insentif non finansial. Ketiga perlu diberi kewenangan kepada dinas yang membidangi perkebunan baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terhadap intervensi dalam pengurusan ISPO. Hal ini perlu dilakukan agar dinas di level provinsi dan kabupaten/kota dapat mendorong dan melakukan percepatan ISPO. Sampai saat ini, aturan yang ada belum mengakomodir terhadap kewenangan kabupaten/kota dan provinsi dalam pengurusan ISPO.


Pada Penelitian II menggunakan “analisis deskriptif dan SEM PLS” menghasilkan diantaranya Penerapan ISPO merupakan tindakan kolektif, dimana kesiapan petani dalam praktek ISPO cenderung bergantung pada sistem sosial mereka di komunitas, lembaga dimana mereka berada, persepsi, budaya masyarakat yang berkembang dan informasi yang mereka peroleh dari sistem sosial tersebut. Variabel yang berpengaruh terhadap kesiapan penerapan ISPO secara langsung dan signifikan adalah persepsi petani terhadap ISPO, dukungan kelembagaan dan akses terhadap teknologi informasi. Sedangkan karakteristik petani tidak berpengaruh dan variabel budaya masyarakat berpengaruh tidak langsung terhadap kesiapan petani melalui variabel persepsi terhadap ISPO.


Rekomendasi yang ditawarkan pada Penelitian II ini diantaranya adalah Akses informasi perlu diperkuat bagi petani sehingga mereka dapat dengan mudah menerima dan memahami informasi teknologi dan mempercepat perubahan. Diperlukan pendekatan intens terhadap kepemimpinan informal yang dapat meyakinkan petani mengenai keselerasan penerapan ISPO dengan budaya setempat. Perlunya dukungan dari pemerintah, Perguruan Tinggi, dunia usaha, dan lembaga mitra pembangunan untuk memfasilitasi percepatan terwujudnya sertifikasi ISPO dengan cara membangun kolaborasi para pihak.


Penelitian III atau yang terakhir menghasilkan melalui “analisis SWOT” terhadap percepatan penerapan ISPO menunjukkan potensi sinergi yang kuat. Matriks koordinat strategis berada pada kuadran I dengan tipe “agresif” mengungkapkan bahwa kombinasi kekuatan internal seperti kelembagaan petani yang memadai dan kepemilikan lahan yang jelas dengan peluang eksternal, termasuk dukungan kebijakan pemerintah dan permintaan pasar yang berkelanjutan, dapat menciptakan model pembangunan ganda (double dividend). Pendekatan ini tidak hanya mempercepat sertifikasi ISPO tetapi juga meningkatkan efektivitas sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi, sosial dan ekologi masyarakat lokal. Yang kedua Perkebunan rakyat di Aceh menghadapi tantangan kompleks dalam memenuhi standar ISPO, terutama terkait pemahaman regulasi yang terbatas dan kapasitas teknis yang belum memadai. Namun, Aceh memiliki modal sosial yang kuat melalui kelembagaan lokal dan dukungan pemerintah daerah yang dapat menjadi pondasi strategi ini.


Rekomendasi yang ditawarkan pada penelitian III ini adalah dengan menggunakan kekuatan yang ada untuk menutupi kelemahan dan manfaatkan peluang untuk mengatasi berbagai hambatan/tantangan yang dihadapi sehingga proses percepatan ISPO bisa lebih cepat terwujud.


Kemudian rekomendai umum yang ditawarkan dari semua penelitian ini adalah Perlunya penelitian lebih lanjut mengenai pola integrasi persyaratan PSR dengan ISPO dalam pengusulan program/kegiatan. Perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut terkait dengan mekanisme insentif bagi kelembagaan petani yang sudah mendapatkan sertifikasi ISPO sebagai perangsang dan bisa memotivasi petani sawit lainnya. Perlunya penelitian lanjutan dengan menggunakan geospasial dan yang terakhir perlunya penelitian yang sama dengan kondisi daerah pasca bencana banjir dan longsor seperti yang telah terjadi di Aceh Tamiang pada 26 November 2025 yang lalu.


Azanuddin Kurnia yang dikenal sangat aktif berorganisasi dan saat ini sebagai Ketua PISPI (Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia) Aceh dan beberapa organisasi lainnya juga aktif menulis artikel di berbagai media cetak dan media online. Beliau mengangat tema ISPO dan dikenal sama kawan-kawan dan sahabat sebagai “Doktor ISPO’ saat ini seperti yang diungkapkan Habiburrahman, STP, M.Sc sebagai Sekretaris PISPI setelah selesai sidang promosi kemarin.


Azan panggilan sehari-hari mempertahankan disertasi dengan sangat percaya diri dan meyakinkan mempertahankan Disertasi dengan Judul “Tata Kelola Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Dalam Peningkatan Daya Saing Komoditas di Provinsi Aceh”.dihadapan penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si. IPU ASEAN Eng sebagai Ketua Sidang yang juga Wakil Rektor I USK, Dr. Mhd. Ikhsan Sulaiman, S.TP., M.Sc., IPU, ASEAN. Eng selaku Sekretaris Sidang, Prof. Dr. Ir. Ahmad Humam Hamid, MA selaku Promotor/Penguji, Prof. Dr. Ir. Ashabul Anhar, M.Sc selaku Ko Promotor I/Penguji, Dr. Agus Nugroho, SP, M.Com selaku Ko Promotor II/Penguji, Prof. Dr. Jasman J, SE, MBA selaku Penguji Bidang Konsentrasi, Dr. Ir. Fajri, M.Sc selaku Penguji Bidang Konsentrasi dan Dr. Prayudi Syamsuri, SP, M.Si Staf Ahli Menteri Kemenko Pangan selaku Penguji Bidang Konsentrasi dari luar Institusi.


Azan mengucapkan terima kasih kepada semua promotor, penguji, rektor beserta jajaran, Direktur pasca beserta jajaran, Ketua Prodi beserta jajaran, Gubernur dan Kadistanbun beserta jajaran, rekan-rekan sejawat angkatan 2021 dan mahasiswa DIP, rekan-rekan PISPI, IKASEP, IKAFP dan sahabat boy, bagio, vira, Hendra, Saiful, yasar, dan masih banyak lainnya. Teristimewa buat mama dan alm. Papa yang sudah menididik dan istri tercinta dan anak-anak yang mendorong dan membantu, dan adek-adek intan, rudi, ratna beserta keluarga besar semuanya dan Pak Jamal dan saiful. Serta Distan Tamiang, FKL, PUPL dan para petani responden. semoga semua ini berkah dan bermanfaat, ujarnya… aamiin….[]

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *