(Refleksi Hari Guru Nasional)
Oleh: Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc
Setiap tanggal 25 November, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 1994, bangsa ini memperingati Hari Guru Nasional (HGN). Sebuah momentum yang semestinya tidak berhenti pada perayaan, upacara, seremonial, atau sekadar ucapan selamat di media sosial. Peringatan ini seharusnya menjadi refleksi bagi kita untuk melihat kembali nasib guru, menilai kiprah mereka dalam membangun bangsa, sekaligus memikirkan arah baru bagi pendidikan Indonesia yang sedang bergerak di tengah arus digitalisasi dan transformasi global.
Dalam keseharian kita, guru selalu disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Sebuah julukan yang begitu puitis dan indah, namun mengandung ironi, karena predikat tersebut sering kali menjadi pembenaran bagi ketimpangan dan ketidakadilan yang masih dialami para pendidik kita. Di banyak daerah, terutama di pelosok, masih ada guru honorer yang menerima gaji jauh di bawah upah minimum, bahkan harus menempuh jarak puluhan kilometer setiap hari demi mengajar anak-anak bangsa. Tidak jarang mereka harus mencari pekerjaan sampingan, bukan karena kurang cinta profesi, tetapi karena pengabdian saja tidak cukup untuk menghidupi keluarga.
Belum lagi posisi guru yang sekarang begitu lemah hingga kerap dijadikan pelampiasan amarah publik. Tindakan-tindakan pembinaan dan pendisiplinan yang dilakukan guru terhadap murid di sekolah sering berujung kriminalisasi baik oleh murid maupun orang tua muridnya sendiri. Seperti kasus baru-baru ini yang terjadi di Banten dan Aceh. Di Banten, seorang Kepala Sekolah dilaporkan ke polisi karena menampar muridnya yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah. Tidak hanya itu, sang Kepsekpun dinonaktifkan dari jabatannya oleh Gubernur setempat. Sementara itu di Aceh, seorang ustadz diberhentikan sebagai guru hanya gara-gara menyita handphone muridnya yang ternyata anak dari seorang pejabat.
Meskipun kedua kasus tersebut berakhir dengan penyelesaian damai, namun kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar, sejauh mana sebenarnya kita ini menghargai peran guru sebagai penentu masa depan bangsa? Dalam berbagai pidato, kita sering mendengar komitmen pemerintah terhadap peningkatan kesejahteraan dan profesionalisme guru. Namun, di lapangan, realitasnya belum seindah janji. Proses rekrutmen guru ASN Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) masih menyisakan banyak persoalan administratif, keterlambatan honor, hingga ketimpangan antarwilayah. Sementara itu, ribuan guru honorer masih menunggu kejelasan status yang tak kunjung pasti.
Tantangan guru di era sekarang tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga adaptasi terhadap kemajuan teknologi. Implementasi Kurikulum Merdeka menuntut guru agar lebih kreatif, inovatif, dan melek digital. Namun, tidak semua guru memiliki kesempatan yang sama untuk beradaptasi. Di daerah dengan keterbatasan jaringan internet, perangkat digital yang minim, dan pelatihan yang terbatas, guru sering kali bekerja dengan segala keterbatasan. Akibatnya, kesenjangan mutu pendidikan antara kota dan desa semakin melebar.
Digitalisasi pendidikan memang membuka peluang besar, tetapi juga menimbulkan tantangan baru. Murid kini bisa memperoleh informasi dari berbagai sumber secara instan melalui internet. Situasi ini menempatkan guru dalam posisi yang berbeda, mereka tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Dalam kondisi seperti ini, guru dituntut untuk berperan lebih sebagai pembimbing moral dan penuntun kebijaksanaan, bukan sekadar penyampai informasi. Tugas guru menjadi lebih kompleks, yaitu mengajarkan bagaimana berpikir kritis, memilah informasi yang benar, serta membentuk karakter di tengah derasnya arus budaya global.
Di sinilah peran negara dan masyarakat menjadi penting. Peningkatan kualitas guru tidak bisa hanya dibebankan pada individu guru itu sendiri. Pemerintah perlu memastikan sistem pelatihan yang berkelanjutan dan merata, tidak hanya di kota besar, tetapi juga hingga pelosok. Pelatihan digital harus bersifat praktis dan aplikatif, disesuaikan dengan kebutuhan nyata di sekolah. Selain itu, pemerintah daerah perlu didorong untuk memperbaiki infrastruktur pendidikan, terutama ketersediaan jaringan internet, listrik, dan perangkat pembelajaran berbasis teknologi.
Namun, lebih dari itu, perubahan besar juga harus terjadi dalam cara kita memandang profesi guru. Masyarakat sering kali menuntut guru menjadi sosok sempurna, sabar, disiplin, cerdas, dan berintegritas tinggi. Tapi jarang yang bertanya, apakah kita sudah memperlakukan mereka dengan hormat dan layak? Menghormati guru bukan hanya dengan memberi ucapan terima kasih di Hari Guru, tetapi juga dengan memastikan hak-hak mereka terpenuhi, mendukung kinerja mereka, melindungi, mengayomi, dan melibatkan mereka dalam setiap perumusan kebijakan pendidikan.
Guru juga membutuhkan ruang untuk berinovasi. Selama ini, banyak ide-ide segar dari guru yang tidak tersampaikan karena terhambat birokrasi atau kurangnya dukungan. Sekolah seharusnya menjadi ruang kreatif bagi guru untuk bereksperimen dengan metode baru tanpa rasa takut gagal. Pengawasan penting, tetapi harus dibarengi dengan kepercayaan. Keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari angka kelulusan atau nilai ujian, tetapi dari seberapa jauh guru mampu menumbuhkan semangat belajar dan karakter baik pada siswanya.
Dalam konteks global, negara-negara maju menempatkan guru sebagai profesi yang bergengsi dan dihargai tinggi. Finlandia dan Jepang, misalnya, menjadikan guru sebagai profesi elit yang seleksinya sangat ketat dan diberi kesejahteraan setara profesional lain. Di Indonesia, cita-cita itu masih jauh, tetapi bukan tidak mungkin dicapai. Kuncinya adalah kemauan politik dan keberpihakan nyata terhadap dunia pendidikan.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan Indonesia sangat bergantung pada bagaimana kita memperlakukan para gurunya hari ini. Jika guru tetap dibiarkan berjuang sendirian di tengah keterbatasan, sulit berharap akan lahir generasi emas 2045 yang cerdas dan berkarakter. Sebaliknya, jika kita menempatkan guru sebagai pusat kebijakan pendidikan, memberi penghargaan layak, dan memfasilitasi pengembangan diri mereka, maka kita sedang menyiapkan fondasi kokoh bagi bangsa ini.
Arus digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari cara kita belajar, berkomunikasi, bekerja, bahkan berpikir. Informasi kini hadir dalam jumlah yang tidak terbatas, tersebar begitu cepat, dan tidak semuanya benar. Dalam situasi seperti ini, anak-anak sering kali kebingungan membedakan antara pengetahuan dan opini, fakta dan manipulasi, etika dan sensasi.
Di sinilah peran guru menjadi semakin krusial. Guru bukan sekadar pihak yang mengajarkan pengetahuan akademik, tetapi juga penjaga nilai (guardian of values) yang memastikan proses belajar tidak kehilangan arah moral. Guru menanamkan prinsip kejujuran, tanggung jawab, empati, dan disiplin, nilai-nilai yang tidak dapat digantikan oleh mesin pencari atau algoritma media sosial. Sementara teknologi mampu mempercepat penyampaian informasi, hanya guru yang mampu menanamkan kebijaksanaan dalam menggunakannya.
Ketika anak-anak semakin akrab dengan dunia digital, mereka juga dihadapkan pada risiko kecanduan gawai, paparan konten negatif, perundungan daring, hingga krisis identitas akibat budaya populer global. Dalam situasi ini, guru berperan sebagai penuntun arah moral (moral compass) yang mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi secara bijak, menghormati sesama di ruang digital, serta menumbuhkan kesadaran kritis terhadap dampak sosial dari dunia maya. Guru membantu siswa memahami bahwa kemajuan teknologi seharusnya memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, bukan mengikisnya. Mereka bukan sekadar pengajar, tetapi pembentuk peradaban. Karena itu, HGN bukan hanya untuk mengucapkan terima kasih, tetapi juga untuk memperbarui janji, bahwa pendidikan akan terus diperjuangkan bersama mereka, bukan tanpa mereka. Selamat HGN 2025, semoga setiap langkah dan peluh para guru menjadi cahaya bagi masa depan bangsa.[]
Penulis adalah Dosen Universitas Syiah Kuala, Ketua MPW Pemuda ICMI Aceh.
Catatan: Tulisan ini disadur dari Opini Waspada Tanggal 3/11/2025 dengan judul yang sama








Leave a Reply