ACEH BESAR – Potensi mineral magnesium yang melimpah di Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, kini didorong untuk naik kelas melalui inovasi pertanian berbasis sumber daya lokal.
Riset USK yang dipimpin Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc. dari bidang Teknik Pertanian USK, sebagai bagian dari penelitian Lektor Kepala dengan pendanaan PTNBH USK Tahun 2026, mencoba menelusuri potensi dan pemanfaatan potensi tersebut.
Penelitian melibatkan tim lintas keilmuan, yakni Ir. Ainul Marliah, MP dari bidang Agroteknologi, Dr. Ir. Yadi Jufri, MP dari bidang Ilmu Tanah, dan Noratun Juliaviani, SP., M.Si dari bidang Agribisnis, serta mengikutsertakan dua mahasiswa tugas akhir yakni: Angga Mulia Akbar dari bidang Teknik Pertanian dan Rahmat Hidayat dari bidang Agroteknologi.
Dalam kegiatan survey lapangannya, tim peneliti turut didampingi oleh Endra Gunawan, S.E., M.Si., Fachrul Nazli, S.Pt., M.Si., Muhammad Rizqan Zakiy, SE, dari DPMPTSP Kabupaten Aceh Besar.
Penelitian ini berangkat dari kondisi di lapangan, di mana praktik pemupukan petani masih menitikberatkan pada unsur hara makro nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Padahal magnesium (Mg) sebagai salah satu hara makro sekunder memiliki peran vital dalam pembentukan klorofil, proses fotosintesis, dan metabolisme tanaman.
Sementara di sisi lain, Aceh Besar menyimpan potensi mineral lokal yang sangat potensial. Kawasan Indrapuri sendiri telah lama dikenal sebagai sentra produksi pupuk magnesium jenis kieserite dan dolomit. Sejumlah penelitian terdahulu mencatat keberadaan produsen pupuk magnesium di Kecamatan Indrapuri yang aktivitas usahanya mencakup penyediaan input, proses produksi, hingga pemasaran dan distribusi kepada petani.
Melalui penelitian USK, mineral lokal kaya magnesium tersebut dijadikan basis rekayasa pupuk yang lebih sesuai dengan karakteristik lahan pertanian di Aceh Besar. Tahapannya mencakup karakterisasi bahan baku, rekayasa proses, uji mutu produk, aplikasi pada tanah, hingga pengamatan respons tanaman.
Riset tidak hanya menilai kandungan hara pupuk, tetapi juga dampaknya terhadap tanah dan tanaman. Parameter tanah yang diamati meliputi pH tanah, magnesium tersedia, kapasitas tukar kation (KTK), karbon organik, dan kalium tersedia. Sementara pada tanaman padi diamati fase pertumbuhan vegetatif dan generatif, gejala kekurangan maupun kelebihan magnesium, serta respons serapan magnesium.
Penelitian ini menggunakan tanaman padi (Oryza sativa L.) dengan tanah sawah dari Desa Lubok Batee, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar sebagai media tanam. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan atau total 20 unit percobaan, yang terdiri dari perlakuan tanpa pupuk magnesium, beberapa dosis pupuk magnesium lokal, serta pupuk pembanding komersial.
Pendekatan ini penting untuk memastikan bahwa inovasi pupuk tidak hanya unggul secara kandungan, tetapi juga efektif secara agronomis di lapangan.
Lebih dari sekadar inovasi teknologi, penelitian ini memiliki dimensi ekonomi kerakyatan yang kuat. Data DPMPTSP Aceh Besar menunjukkan terdapat 80 UMKM yang bergerak di industri pupuk. Angka ini menunjukkan ekosistem usaha pupuk lokal di Aceh Besar telah terbentuk dan berpotensi menjadi bagian dari rantai nilai pertanian daerah.
Karena itu, pengembangan pupuk magnesium lokal tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan teknis pertanian, melainkan sebagai peluang hilirisasi berbasis UMKM lokal. Dalam skema ini, perguruan tinggi berperan menyediakan teknologi dan validasi ilmiah, pemerintah menyediakan regulasi dan ekosistem usaha, sementara UMKM menjadi penggerak produksi dan pasar.
Jika ekosistem tersebut terbangun, nilai ekonomi mineral lokal tidak lagi berhenti sebagai bahan mentah. Nilai tambah tercipta melalui proses pengolahan, formulasi, pengemasan, distribusi, dan pemasaran. Petani pun memperoleh alternatif pupuk yang berasal dari sumber daya daerahnya sendiri.
Dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat juga telah terlihat. Industri pupuk magnesium di Gampong Krueng Lamkareung, Indrapuri, misalnya, tercatat memberikan kontribusi melalui penyerapan tenaga kerja, dukungan bagi petani, dan program pengembangan keterampilan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Aceh Besar juga pernah menegaskan harapan agar industri pupuk magnesium mampu membangkitkan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan.
Namun, pengembangan industri berbasis mineral lokal tetap harus mengedepankan prinsip keberlanjutan. Pengelolaan sumber daya tidak hanya dinilai dari seberapa banyak bahan yang ditambang, tetapi bagaimana sumber daya tersebut diolah secara efisien, memberikan nilai tambah bagi masyarakat, memenuhi standar mutu, dan tidak menimbulkan beban lingkungan.
Di sinilah peran riset perguruan tinggi menjadi penting, sebagai jembatan agar teknologi tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan pemanfaatan sumber daya yang bertanggung jawab.
Riset pupuk magnesium lokal di Aceh Besar membawa pesan bahwa pertanian berkelanjutan dapat dimulai dari potensi yang ada di sekitar kita. Indrapuri memiliki mineral magnesium, Aceh Besar memiliki lahan pertanian yang luas, daerah memiliki 80 UMKM pupuk, dan USK memiliki kapasitas riset. Jika keempat potensi ini dipertemukan dalam satu ekosistem hilirisasi, maka pupuk magnesium lokal dapat berkembang dari sekadar produk pertanian menjadi strategi pembangunan ekonomi daerah.
Tujuan akhirnya bukan semata menghasilkan pupuk, melainkan membangun rantai nilai lokal, di mana sumber daya lokal menjadi bahan baku, teknologi lokal meningkatkan nilai tambah, UMKM menjadi penggerak produksi, petani menjadi penerima manfaat utama, dan lingkungan tetap terjaga.
Melalui pendekatan tersebut, riset ini diharapkan berkontribusi pada tiga agenda sekaligus, yaitu meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, serta mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.[]

