BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) mencatatkan partisipasi signifikan dalam agenda nasional melalui Program Mahasiswa Berdampak Tahun 2026. Sebanyak 21 proposal dari universitas ini dinyatakan lolos seleksi untuk melaksanakan program pemberdayaan masyarakat dalam rangka pemulihan dampak bencana di wilayah Sumatra.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini bertujuan untuk mengintegrasikan inovasi akademik dengan kebutuhan nyata di lapangan. Berdasarkan surat pengumuman resmi nomor 0156/C3/AL.04/2026 tanggal 26 Januari 2026, USK menjadi salah satu dari 82 perguruan tinggi di Indonesia yang siap menjalankan program pengabdian tersebut.
Program ini melibatkan 1.000 mahasiswa USK yang akan disebar ke tujuh kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Wilayah sasaran mencakup Pidie Jaya dengan 8 kegiatan, Bireuen 6 kegiatan, Aceh Tengah dan Bener Meriah masing-masing 2 kegiatan, serta Aceh Timur, Aceh Utara, dan Gayo Lues masing-masing 1 kegiatan.
Selama satu bulan penuh, terhitung sejak 28 Januari hingga 28 Februari 2026, para mahasiswa akan fokus pada dua aspek utama yaitu Tanggap darurat pada sektor pangan, energi, dan kesehatan, dan Pemulihan ekonomi melalui pendekatan ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
Secara keseluruhan, terdapat 84 proposal dari berbagai perguruan tinggi di Aceh yang mendapatkan pendanaan dari total 203 proposal terpilih di tingkat regional. Setelah USK, Universitas Samudra menyumbang 18 proposal, diikuti Universitas Teuku Umar dengan 8 proposal, dan Universitas Almuslim dengan 5 proposal.
Sejumlah kampus lain seperti ISBI Aceh, Universitas Bina Bangsa Getsempena, Universitas Jabal Ghafur, dan Universitas Malikussaleh masing-masing meloloskan 3 proposal. Sementara itu, beberapa institusi lainnya berkontribusi dengan jumlah satu hingga dua proposal per perguruan tinggi.
Pihak Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) menjelaskan bahwa mekanisme pencairan dana hibah akan dilakukan dalam satu tahap (100%) melalui kontrak dengan lembaga perguruan tinggi terkait. Langkah ini diambil untuk memastikan kelancaran operasional mahasiswa saat berada di lokasi pengabdian.
Rektor USK, Prof. Dr. Ir. Marwan, menyampaikan bahwa keterlibatan ini merupakan bagian dari upaya universitas dalam memberikan solusi bagi permasalahan sosial dan ekonomi pascabencana. Ia berharap melalui kreativitas mahasiswa, proses pemulihan masyarakat di wilayah-wilayah terdampak dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.[]
