BANDA ACEH – Yayasan Sains Nusantara (YSN), bertindak sebagai konsultan pelaksana, sukses menyelenggarakan Konsultasi Publik Penyusunan Dokumen Profil dan Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati (RIP Kehati) Provinsi Aceh.
Kegiatan strategis ini merupakan tahapan krusial dalam menyusun dokumen acuan untuk pengelolaan, pelindungan, dan pemanfaatan keanekaragaman hayati Aceh secara berkelanjutan. Langkah besar ini mendapat dukungan penuh dari GIZ-Indonesia dan Pemerintah Aceh.
Konsultasi publik dilaksanakan secara bauran (hybrid), pada tanggal 29 – 30 Juni 2026 memadukan kehadiran luring di Aula Pinus Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Aceh dengan kehadiran daring. Forum ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas DLHK Aceh selaku Ketua Tim Penyusun yang ditunjuk oleh Gubernur Aceh.
Acara ini berhasil menghadirkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari tingkat pusat hingga daerah. Di antaranya adalah Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KKHSG-KLHK), jajaran Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten/kota, akademisi, organisasi masyarakat sipil, masyarakat adat, sektor swasta, hingga mitra pembangunan.
Kepala Dinas DLHK Aceh Dr. Ir. A.Hanan, SP., MM., menegaskan bahwa dokumen RIP Kehati ini akan menjadi landasan utama pembangunan yang berwawasan lingkungan di Serambi Mekah.
“Dokumen ini diharapkan dapat dituangkan ke dalam berbagai rencana strategis pembangunan yang berlandaskan pada kearifan lokal dan keadilan bagi keanekaragaman hayati, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Ini akan menjadi tonggak sejarah perencanaan pembangunan hijau di Aceh,” ujarnya.
Aceh sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di Indonesia. Bentang alamnya yang kaya—mulai dari hutan hujan tropis, kawasan pegunungan, lahan basah, sungai, hingga pesisir dan laut—merupakan habitat penting bagi berbagai spesies endemik dan satwa kunci bernilai konservasi tinggi.
Kekayaan ekologis ini menjadi modal penting bagi pembangunan daerah, namun sekaligus menuntut pengelolaan yang terencana, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Ketua Pembina Yayasan Sains Nusantara, Dr. Firdaus Basyah, M.Si., menekankan pentingnya pendekatan partisipatif yang inklusif dalam menyusun dokumen ini.
“Dokumen Profil dan RIP Kehati Aceh ini harus menjadi milik bersama. Oleh karena itu, masukan dari seluruh pemangku kepentingan sangat penting untuk memastikan dokumen ini memiliki kualitas ilmiah yang kuat, implementatif, dan mampu menjadi pedoman pembangunan daerah.
Tujuannya agar kelestarian kehati Aceh tidak hanya terjaga untuk saat ini, tetapi juga untuk generasi masa depan,” jelas Dr. Firdaus.
Melalui forum diskusi yang dinamis, para peserta memberikan berbagai masukan konstruktif. Poin-poin yang dibahas meliputi kondisi terkini ekosistem, status spesies prioritas, penentuan kawasan bernilai konservasi tinggi (HCV), mitigasi ancaman kehati, penguatan kelembagaan, skema pembiayaan, hingga strategi implementasi.
Seluruh poin tersebut diselaraskan dengan kebijakan nasional, seperti Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045, serta target global Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KM-GBF).
Seluruh hasil dari konsultasi publik ini akan langsung digunakan sebagai bahan penyempurnaan dokumen sebelum memasuki tahap finalisasi dan penetapan resmi oleh Pemerintah Aceh. Dokumen akhir diharapkan menjadi pijakan kokoh dalam pengambilan kebijakan, perencanaan pembangunan, dan pengelolaan sumber daya alam yang mengedepankan prinsip konservasi serta kesejahteraan masyarakat.
Di akhir acara, Yayasan Sains Nusantara menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada GIZ-Indonesia, Pemerintah Aceh, PT Wildlife Works Indonesia, seluruh narasumber, peserta, dan mitra pembangunan atas komitmen serta partisipasi aktif mereka. Sinergi kolektif ini diyakini menjadi kunci utama dalam mewujudkan pengelolaan keanekaragaman hayati Aceh yang berkelanjutan demi masa depan generasi sekarang dan mendatang.[]
