Oleh: Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc
Janeng dalam bahasa nasional ada yang menyebutnya ubi hutan ada pula memanggilnya gadung. Yang jelas tumbuhan merambat ini memiliki nama latin Dioscorea hispida. Ia banyak ditemukan di pedalaman atau hutan-hutan Aceh. Meskipun dikenal sebagai ubi racun karena mengandung dioskorin dan HCN yang dapat menyebabkan “paralyse” syaraf sehingga terasa pusing dan dapat menyebabkan mabuk serta muntah-muntah, namun bagi masyarakat Aceh janeng dikenal sebagai bahan pangan alternatif.
Janeng familiar dalam cerita rakyat sebagai makanan zaman perang. Konon menurut kisah dari orang tua-tua, dulu ketika masyarakat Aceh berperang melawan Belanda, dengan kejamnya penjajah dari negeri kincir angin itu membakar lumbung padi dan memusnahkan seluruh persediaan bekal makanan masyarakat lainnya agar rakyat pejuang tidak mampu melawan dan menyerah takhluk kepada mereka. Meskipun semakin terdesak, rakyat Aceh lebih memilih bertahan hidup di dalam rimba raya daripada harus menyerah kalah pada Belanda.
Hal yang sama juga terjadi di zaman Jepang, bahkan penjajah mata sipit ini dikenal lebih sadis dari seniornya. Satu-satunya jenis makanan yang tersisa dan potensial dimanfaatkan selama pendudukan mereka adalah janeng. Walaupun dikenal beracun, namun berkat indigenus knowledge yang dimiliki masyarakat kala itu, tumbuhan liar ini berhasil dijadikan sumber pangan alternatif pengganti beras untuk tujuan survival. Era dimana rakyat terpaksa mengkonsumsi dan menikmati janeng ini digambarkan sebagai masa-masa sulit sehingga dalam banyak cerita janeng diidentikkan sebagai suasana pahit dan suram tanpa pilihan, demi bertahan hidup racunpun terpaksa dimakan.
Menyimak historis ini memang sangat layak jika tumbuhan hutan ini dijadikan sebagai simbol ketahanan pangan. Disamping perkembangbiakannya yang sangat mudah, tanpa ditanam khususpun bisa tumbuh, pemanfaatan tumbuhan ini nyaris tanpa kompetitor, tidak ada makhluk lain yang menyukainya. Menurut salah satu sumber menceritakan bahwa babi saja tidak mau memakan ubi racun tersebut. Paling cuma badak karena hewan yang satu ini memiliki penangkal racun pada culanya. Namun populasi hewan ini tidak begitu banyak dan sekarang malah tergolong hewan langka yang dilindungi. Artinya manusia bebas menikmati janeng dari alam sepuasnya.
Bagi masyarakat Aceh bentuk konsumsi janeng yang paling terkenal adalah “ kerabe u “ dimana janeng yang telah diolah dan dibuang racunnya direbus atau dikukus yang selanjutnya ditaburi kelapa parut yang dicampur gula. Masyarakat juga percaya bahwa dengan mengkonsumsi janeng selain mengatasi lapar, juga berkhasiat obat. Ia cocok untuk penderita rematik dan kolesterol.
Di zaman sekarang, baik masyarakat maupun ahli pangan terus berupaya mencari dan meramu ide untuk melakukan diversifikasi pengolahan janeng. Ada yang menjadikan janeng sebagai cemilan dalam bentuk kerupuk, kue, dan aneka penganan khas lainnya. Ada pula yang mulai berupaya untuk menjadikannya sebagai tepung atau bahkan butiran yang mirip beras. Sehingga betul-betul dapat dijadikan sebagai bahan pangan pengganti beras seperti yang sudah duluan muncul yaitu beras Porang.
Berkat inisiatif mahasiswa Universitas Syiah Kuala yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler di Desa Riting Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh, 8 Juli – 7 Agustus 2024, tumbuhan ubi hutan beracun tersebut berhasil viral dan dikenal luas oleh masyarakat. Bahkan berkat dukungan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Gampong (DMPG) Aceh, Bappeda Aceh, DLHK Aceh, BPDAS Krueng Aceh, BMKG Stasiun Klimatologi Aceh, P3KKN USK, PR ITP USK, Pusmeptan USK, dan MPW Pemuda ICMI Aceh, Desa Riting dilaunching sebagai Sentra Janeng di Kabupaten Aceh Besar, dalam kenduri janeng, 5 Agustus 2024.
Paska KKN tersebut produk-produk berbasis janeng yang dihasilkan masyarakat Riting terus diperkenalkan secara luas. Janeng Riting berhasil menyita perhatian di Pekan Qris Nasional Aceh yang diselenggarakan di USK beberapa waktu lalu. Demikian juga dalam expo Tujuh Belasan dalam rangka merayakan Dirgahayu Republik Indonesia ke 79 di Lapangan Sepakbola Indrapuri. Janeng Riting paling diburu pengunjung. Alhamdulillah produk yang masih dalam pengurusan administrasi standar usaha tersebut sudah mulai diterima masuk swalayan lokal. Insya Allah jika keperluan administrasi terpenuhi, aneka produk berbasis janeng ini siap menjadi primadona baru sebagai oleh-oleh khas dari Aceh. Semoga…
Penulis adalah Koordinator Lokasi (KOSI) Kecamatan Indrapuri,
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Desa Riting, KKN Reguler Universitas Syiah
Kuala Periode XXV – XXVI tahun 2024.








Leave a Reply