Kisah Masa Kecil

Redaktur Avatar
Posted on :

Oleh: Dellia Adisti Putri

Aku berlari kecil dengan tas ransel abu-abu favoritku, mengejar seorang anak laki-laki dengan senyuman sehangat mentari yang menungguku di ujung jalan.

“Sudah siap?”

Aku menggangguk dengan semangat, menaiki tempat duduk di belakang sepeda miliknya dan menikmati angin dingin di pagi hari, untung saja ibuku mengingatkan soal memakai jacket, kalau tidak aku sudah bersin-bersin di sepanjang jalan.

“Kau lama sekali sihh” aku tertawa mendengar gerutuannya.

Sebelum lebih jauh, aku ingin memperkenalkan diri, aku  Cella. Sedangkan anak laki-laki berambut coklat yang tengah memboncengku ini adalah Alvian, aku memanggilnya pian. Dia adalah matahari menyilaukan yang kau temui di pagi hari saat kau bangun pagi. Kau mengerti maksudku? Bayangkan kau tengah asik tertidur di dalam kamarmu, dengan udara pagi yang sejuk dan tiba-tiba cahaya matahari menerobos kamarmu dan mengganggu tidurmu. Begitulah Alvian, terang dan hangat, tapi terkadang cukup mengganggu hari tenangku. Walau begitu aku menyukai cahaya mengganggu itu.

“Kita masih belum terlambat, ini bahkan masih terlalu pagi”

Sekedar informasi, aku ikut menemani Pian dalam lomba balap sepeda nya. Ini bukan acara resmi, hanya acara tujuh belas agustus-an biasa. Pian sering sih ikut lomba balap sepeda di sekolahnya tapi untuk acara di luar sekolah, ini adalah yang pertama baginya, mungkin karena itu Pian terlihat bersemangat sekaligus gugup.

“Aku kan harus mendaftar dulu” gerutu Alvian yang membuatku terkekeh, aku memegang erat bahunya saat merasakan angin dingin bertiup sedikit lebih kencang, membiarkan rambut acak acakan Pian menggelitik wajahku.

“Pian, kenapa lomba tujuh belasan?”

Alvian diam tak menjawab, untuk beberapa saat ku pikir dia takkan menjawabnya sama sekali jadi aku tidak menuntut dengan pertanyaan lagi, sampai helaan napasnya terdengar di telingaku.

“Entahlah, aku hanya ingin menunjukkan sesuatu padamu”

“Padaku?”

“Ya, bahwa di sini juga seru”

Aku mengangguk-ngangguk. Mulai berpikir apa mungkin Pian ingin menunjukkan hal ini karena aku tak pernah menghadiri perlombaan yang dia ikuti sejauh ini?

Hey, jangan salahkan aku. Aku adalah orang asing di sini, aku hanya sesekali berkunjung tiap libur sekolah karena kota ini tempat dimana kakek dan nenekku berada.

“Apa karena aku bilang mungkin kita takkan bertemu lagi?”

Alvian diam tak menjawab apapun untuk sesaat, mungkin ia bingung harus menjawab apa. Sejujurnya, pertemanan ku dan Pian tak bisa dianggap sangat dekat, ada sebuah jarak mengingat jarangnya kami bertemu. Aku menyukai senyuman hangatnya setiap setahun sekali kami bertemu, perpisahan seharusnya sudah biasa. Pian seharusnya tidak merasa sedih sama sekali,aku tahu itu.

“Tidak, kenapa kau ge-er”

Lihat, apa yang kukatakan. Pian takkan mungkin merasakan kesedihan hanya karena kemungkinan bahwa kita takkan bertemu lagi. Aku tak punya alasan untuk berkunjung ke daerah dekat rumahnya lagi. Nenek sudah tiada dan begitupun kakekku yang telah pergi seminggu yang lalu.

“Hey, jangan salah sangka dulu. Aku juga tidak perduli mau bertemu denganmu atau tidak” ujarku yang tentu saja sebuah kebohongan, pian teman ku,aku harap kami bisa selalu berteman. Hanya saja aku adalah salah satu mahkluk penuh gengsi yang tak mau harga dirinya terinjak atau begitulah yang kurasakan, jadi jangan salahkan aku.

Kami diam,aku tak tahu harus mengatakan apalagi. Kurasa lebih baik begini kau tahu? Maksudku, lebih baik kalau apa yang kurasa di tutupi, perasaan dimana aku ingin berteman dengannya lebih lama.

“Sudah sampai, tunggu di sini dan aku akan mendaftar terlebih dahulu” Ujar Pian saat kami sudah sampai di lapangan desa.

Aku mengangguk, memperhatikan sekitarku, ada beberapa orang yang tengah menyiapkan acara tujuh belasan hari ini. Aku memandang satu persatu wajah-wajah asing itu, mendengar logat khas mereka saat berbicara seakan akan aku takkan mendengarnya lagi, terlalu melankolis kalau ku pikirkan karena pasti aku akan kembali ke kota ini walau tidak di gang masa kecilku ini, sampai sebuah tangan menyentuh pundakku, Rayan.

“Kau sendirian?”

Aku menggeleng, Rayan salah satu tetanggaku di kota itu juga. Aku tidak pernah bertanya lebih apakah Rayan adalah saudara atau hanya sekedar teman Pian.

“Aku dengan Pian. Tapi dia sedang mendaftar lomba balap sepeda”

Rayan mengangguk-nganggukkan kepalanya, anak itu ikut mendudukkan diri di sampingku. Apa aku sudah mengatakan bahwa aku berusia 10 tahun? Iya aku berusia 10 tahun, dan Pian berusia 9 tahun sedangkan Rayan berusia 11 tahun.

“Jadi kau takkan kesini lagi?”

“Aku akan berkunjung kok” ujarku tanpa ragu karena memikirkan bahwa masih banyak kesempatan untuk datang ke kota ini, Rayan tersenyum. Kami melihat Pian yang berjalan mendekat dengan nomor yang sudah ia dapatkan.

“Baguslah, jadi kita masih bisa bermain bersama” aku mengangguk, sebuah harapan sederhana. Tetap memiliki teman yang baik hati seperti mereka.

Perlombaan dimulai setelah kami menunggu 40 menit. Aku menggerutu sepanjang menunggu, mengatakan bahwa betapa bodohnya datang terlalu pagi dan menunggu tanpa tahu harus apa seperti itu, walau sejujurnya aku menikmati jam-jam terakhir bersama mereka.

Perlombaan dimenangkan oleh Pian sebagai juara satu, ia mendapatkan semacam bingkisan yang dibalut dengan sampul buku. Aku tak mau repot bertanya kira kira apa isinya, aku sudah dapat menebak bahwa isinya adalah satu pak buku kosong dan di tambah beberapa alat tulis, menurutmu apalagi hadiah untuk lomba tujuh belasan?

Aku, Pian dan Rayan memutuskan pulang lebih cepat. Bercengkrama di gang sempit menuju rumah, bercanda dengan mereka adalah hal yang menyenangkan, sampai Rayan memutuskan masuk ke rumah karena sudah jam makan siang. Tapi aku dan Pian masih tetap di depan rumah, memainkan semacam permainan gasing.

Saat itu aku mulai menatap Pian, aku berpikir bahwa aku takkan mendapatkan teman sepertinya lagi. Tersenyum dan menjadikan mahkluk canggung penuh gengsi seperti ku menjadi temannya, cocok dalam selera humor, menemaniku saat sendirian. Haruskah aku mengatakan padanya tentang fakta itu?

“Kau ingin mengatakan sesuatu?”

Aku menggeleng, berdiri dan mengambil gasingku yang sudah terpental cukup jauh, saat kembali ke depannya, aku menarik napas dan memberanikan diri.

Mengambil sebuah kelereng yang ku temui entah dari mana dan hendak menyerahkannya pada Pian.

“Ambil ini” ujarku menyodorkan kelereng kaca itu pada pian, taada yang spesial, hanya kelereng biasa. Mungkin karena itu Pian hanya memandang kelereng itu dan bertanya untuk apa?

“Kenang-kenangan, kita mungkin takkan bertemu lagi” ujarku menyodorkan kelereng itu lagi, dia memandangnya, sama sekali taada niatan untuk menerimanya. Aku mendengar Pian menghela napasnya.

“Kurasa cukup disini, mari kita menjalani hidup masing-masing setelah ini” aku mendengarnya dengan baik, sebuah kalimat yang terus ku ingat hingga usiaku dewasa. Dengan segala gengsi yang kutahan dan rasa malu yang sudah di ujung tanduk, aku tertawa lalu membuang kelereng itu asal .

“Aku bercanda kali, siapa juga yang mau mengenang kau Pian” ujarku tapi tak mau menatap nya, aku berdiri dari dudukku, tanpa menatapnya sama sekali.

“Aku mau makan siang, kita main nanti lagi saja” sejujurnya, walau penuh keraguan. Aku melihat mata kecewa Pian saat aku membuang kelereng itu, tapi aku tak cukup yakin karena hanya melihatnya seperkian detik.

Pian mengangguk, ia pergi dari halaman rumah nenekku dan masuk ke rumahnya, ku pikir kami akan bermain lagi sorenya walau jujur hatiku sakit mendengar apa yang Pian katakan padaku. Tapi sore itu, saat aku bahkan menunggu Pian karena ayah dan ibuku sudah siap dengan mobil dan segala barang barang karena harus kembali ke kota asalku, aku tak berbicara dan melihat Pian. Saat aku di dalam mobil dan memandang ke arah luar dari kaca jendela mobil sebelum mobil jalan, di sana aku melihat pian. Aku tak mengerti maksud tatapannya, mungkin ia lega aku pergi.

Sampai waktu berjalan, di bangku SMA. Aku berkunjung kembali ke daerah itu, jujur aku berharap senyuman miliknya masih sama, masih menyambutku seperti biasa. Tapi aku hanya melihat ia yang berdiri di balik pagar rumahnya, kami sempat saling melihat tapi tak mengatakan apapun, bahkan untuk sekedar melempar senyuman saja tidak. Disitu aku yakin,aku dan Pian, hanya kisah masa kecil yang takkan terulang.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *