Oleh: Masnaini
SEOUL – Tahun 2025 ini, Ramadan lebih nyaman bagi umat Muslim yang tinggal di Korea Selatan. Hal ini disebabkan karena di bulan suci ini bertepatan dengan akhir musim dingin, di mana durasi siang hari lebih pendek dibandingkan musim panas. Jika pada musim panas waktu siang jauh lebih panjang. Musim dingin di Korea Selatan berlangsung dari bulan Desember hingga Maret, suhu bisa mencapai titik rendah hingga -20 C, terutama di daerah pegunungan atau wilayah yang lebih utara. Cuaca dingin ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang berpuasa, terutama karena tubuh membutuhkan lebih banyak energi untuk menjaga suhu tetap stabil. Namun, di sisi lain, rasa haus dan dehidrasi lebih jarang terjadi dibandingkan saat berpuasa di musim panas.
Sebagai Muslim yang tinggal di negeri di mana Islam adalah agama minoritas, menjalani Ramadan tentu memiliki suka dan duka tersendiri. Salah satu keuntungan yang dirasakan adalah durasi puasa yang lebih pendek pada tahun ini. Namun, di luar itu, ada beberapa tantangan yang dihadapi. Salah satunya adalah makan dan minum di tempat umum yang tetap berjalan seperti biasa.
Berbeda dengan negara-negara mayoritas Muslim di mana suasana Ramadan sangat terasa, di Korea kehidupan berjalan seperti biasa tanpa adanya penyesuaian khusus.
Selain itu, Korea memiliki budaya berjalan kaki yang sangat kuat. Banyak orang lebih memilih berjalan atau menggunakan transportasi umum seperti bus dan subway dibandingkan kendaraan pribadi. Hal ini menjadi tantangan bagi mereka yang harus banyak beraktivitas di luar rumah saat berpuasa, terutama di tengah suhu dingin. Berjalan kaki di tengah angin dingin dengan kondisi perut kosong tentu menjadi ujian tersendiri.
Tantangan lainnya bagi Muslim di Korea saat Ramadan adalah ketersediaan makanan halal. Meskipun restoran halal sudah mulai bermunculan, terutama di kota-kota besar seperti Seoul dan Busan, namun jumlahnya masih terbatas. Banyak Muslim yang memilih memasak sendiri untuk memastikan kehalalan makanan mereka. Belanja bahan makanan halal pun harus dilakukan di toko-toko khusus yang umumnya terletak di daerah tertentu, seperti Itaewon di Seoul yang dikenal sebagai pusat komunitas Muslim di Korea.
Begitu pula dengan tempat ibadah. Masjid di Korea sangat terbatas, dan kebanyakan Muslim harus mencari musala atau tempat khusus untuk melaksanakan salat Tarawih dan ibadah lainnya. Masjid Sentral Seoul di Itaewon menjadi salah satu tempat utama bagi Muslim di Korea untuk berkumpul dan merasakan nuansa Ramadan yang lebih terasa.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Ramadan di Korea juga membawa pengalaman unik. Banyak komunitas Muslim, baik dari kalangan mahasiswa, pekerja, maupun ekspatriat, saling mendukung dan berbagi dalam menjalani ibadah puasa. Beberapa organisasi Islam dan komunitas Muslim di Korea sering mengadakan acara buka puasa bersama, yang menjadi ajang silaturahmi dan mempererat persaudaraan sesama Muslim. Selain itu, beberapa warga Korea yang penasaran dengan Ramadan dan Islam terkadang menunjukkan rasa ingin tahu mereka dengan bertanya atau bahkan mencoba ikut berpuasa sehari. Ini menjadi kesempatan bagi Muslim di Korea untuk mengenalkan Islam dengan cara yang lebih positif dan terbuka.
Penulis adalah: Mahasiswa PhD Ewha Womans University, Seoul, Korea Selatan








Leave a Reply