Monday, 03 August 2026
Cuaca Jakarta Memuat cuaca...
Sastra May 3, 2026 Redaktur 1 menit baca

Puisi: Belenggu Raga Negeri

Oleh: Muhammad Yasar

Tangan-tangan busuk bermain dalam sunyi,
Menjarah jiwa negeri yang dulu luhur
Mereka yang berkaca debu,
Berorasi di mimbar harapan,
Namun kata-katanya adalah belati,
Menusuk punggung rakyat yang lemah dalam diam.

Di bawah bayang-bayang istana megah,
Keadilan tertunduk layu,
Hukum menjadi piagam hampa,
Dijual murah kepada si empunya kuasa.
Apa arti sumpah yang diucap lantang?

Bila janji hanya debu dalam sentilan angin?
Jelata hanyalah kain lap untuk diperas,
Hasilnya mengalir ke meja-meja pesta.

Namun, lihatlah di balik kabut duka,
Ada nyala di mata kaum tertindas,
Langit kelabu takkan selamanya menggulung,
Sebab rakyat adalah badai yang tak terkulum.

Wahai, para pemangku takdir bangsa,
Adakah nurani tersisa di dada?
Negeri ini bukanlah mahligai pribadi,
Ia tanah air yang hidup dalam doa.
Jika langkah kalian terus sesat,
Sejarah akan menulis nama kalian dengan noda.
Dan di hari penghakiman jiwa,
Rakyat, selamanya, menjadi saksi abadi.

Penulis

Redaktur

Kontributor Media Civitas.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komentar akan tampil setelah disetujui moderator.