Produk Kerajinan Tumbuhan Bemban ‘Bilidroe’ Semarakkan Milad USK Ke-63

Redaktur Avatar
Posted on :

BANDA ACEH – Aneka produk kerajinan anyaman dari tumbuhan bemban karya masyarakat Gampong  Lampanah Tunong ‘Bilidroe’  turut menjadi pusat perhatian di kegiatan Expo Milad ke-63 Universitas Syiah Kuala yang berlangsung di Lapangan Tugu  Darussalam, 03/11/2024.

Kegiatan Expo yang dibuka langsung oleh Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Marwan tersebut berlangsung sangat meriah dan turut dihadiri PJ. Gubernur Aceh, Dr. H. Safrizal ZA, M.Si.

Diperkirakan 10.000 peserta yang terdiri dari dosen, karyawan, mahasiswa dan keluarga besar Universitas Syiah Kuala ikut serta memadati Lapangan Tugu Darussalam untuk mengikuti beragam kegiatan lomba dan hiburan.

Menurut Ketua Panitia, Prof. Dr. Ir. Taufik Saidi, M.Eng, diantara kegiatan menarik yang diselenggarakan panitia tahun ini adalah Fun Bike, Fun Run, Fun Walk, dan Pembagian Doorprize.

Expo yang berlangsung selama satu hari ini menghadirkan beragam produk hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan atau dihasilkan oleh para sivitas akademika dan mitra.

Produk kerajinan tangan anyaman tumbuhan bemban yang dalam bahasa Aceh disebut “bak bili” , termasuk salah satu produk yang berhasil mencuri perhatian peserta terutama ibu-ibu.

Hasil anyamannya yang rapi dan eksotik menjadikan produk mitra “Bilidroe” yang diekspose di stand LPPM USK ini ramai dikunjungi. “Selain berbelanja banyak yang penasaran dengan bahan bakunya yaitu bemban atau bak Bili. Ternyata banyak yang belum mengenal bak bili, ujar Ayla Shafira, Mahasiswa Teknik Pertanian USK yang menjaga stand tersebut.

Menurut Dosen Pengabdi LPPM USK, Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc, tumbuhan Bili ini merupakan tumbuhan liar yang berhasil dimanfaatkan oleh warga masyarakat Lampanah Tunong – Indrapuri dengan UMKM Bilidroe sebagai sumber ekonomi tinggi. Produk-produk yang telah menjadi salah satu unggulan UMKM Aceh Besar tersebut telah mampu menembus pasar domestik hingga luar negeri.

Namun ditengah perkembangan usaha tersebut para pengrajin yang dimotori ibu-ibu ini mulai mengalami krisis bahan baku. “ Untuk itu kami dari Fakultas Pertanian mencoba melakukan domestikasi, menjadikan tumbuhan liar tersebut menjadi tanaman budidaya dalam rangka mendukung kelestarian usaha masyarakat “, ujar Yasar.[]

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *