Puisi: Tanah Yang Tertukar

Redaktur Avatar
Posted on :

Karya: Muhammad Yasar

Di antara ladang sunyi yang tumbuh puisi,
Terlintas gelegar besi di rembang pagi,
Seketika bulir padi, yang masih berembun suci,
Dikafani debu ratapan arus ekonomi.


Lihatlah, di tepi hamparan yang lelah menguning,
Terjaga tidur burung pipit tanpa sarang pulang.
Tangisnya tak terdengar, sebab nyanyian pembangunan
Lebih nyaring dari desir daun yang jatuh kehilangan.


Siapa menyapa tanah basah, kini berlapis semen?
Di mana sisa doa para petani yang lengannya berurat?
Di balik petak sawah, deret angka telah menetap,
Berkilat-kilat, investasi, tuan, bukan pengabdian.


Ah, waktu telah runtuh; ladang itu kini berwajah asing,
Rerumputan menghilang, beringsut digantikan dinding.
Lalu di pintu-pintu gedung yang tumbuh bagai duri,
Wajah bumi hanya refleksi tubuh sunyi yang terkuburi.


Adakah yang berduka? Oh tidak, ini hanyalah perkara wajar,
Dibisikkan pejabat dalam kata-kata birokrasi yang samar.
Pertumbuhan ekonomi mantra yang tak kenal sunyi,
Namun tanah tahu, ia telah kehilangan jantung bumi.
Suatu hari, anak-anak tak akan lagi mengenal lumpur.


Pada mereka, sawah hanya dongeng para pemikul cangkul.
Sejarah telah berpaling muka antara masa lalu dan hari ini,
Hanya ada lahan terbeli disulap janji beton-beton abadi.
Tapi dengarlah malam pun pernah setia memeluk cahaya,


Sebelum ia tahu, kepekatan ini akan terus bertanya
mengapa rahim subur itu mesti terkubur dalam diam,
Demi mimpi-mimpi yang tak pernah benar-benar bertahan?
Tanah yang lapar, lahan yang alpa,
Dan kita, penonton yang takut bersuara.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *